BORNEONEWS, Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional mendorong standardisasi steker dan soket (plug and socket) guna mempercepat adopsi kendaraan listrik roda dua di Indonesia.
Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN, Eka Rahman Priandana, mengatakan salah satu kendala utama pengembangan kendaraan listrik adalah keterbatasan infrastruktur pengisian daya.
Selain itu, biaya baterai yang tinggi serta kekhawatiran jarak tempuh (range anxiety) juga masih menjadi hambatan bagi masyarakat.
“Di Indonesia, tantangan ini semakin besar karena investasi pada infrastruktur pengisian cepat dan penukaran baterai masih terbatas,” ujarnya, Jumat, 3 April 2026.
Ia menjelaskan, model bisnis battery swapping yang saat ini berkembang juga menghadapi sejumlah kendala, mulai dari kebutuhan investasi besar hingga skema kerja sama dengan penyedia listrik.
Di sisi lain, tren teknologi mulai bergeser ke kendaraan listrik roda dua dengan baterai tanam berkapasitas besar yang membutuhkan dukungan pengisian cepat.
Menurut Eka, interoperabilitas menjadi kunci utama dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik.
“Tanpa standar plug dan socket yang seragam, pengembangan infrastruktur tidak akan optimal,” tegasnya.
Untuk itu, BRIN menginisiasi pengembangan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk sistem pengisian cepat roda dua, dengan mengacu pada standar internasional IEC 62196-6 yang disesuaikan dengan kebutuhan dalam negeri.
Standardisasi ini diharapkan mampu meningkatkan kompatibilitas antarperangkat, mendorong investasi stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), serta memperkuat tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Selain itu, pendekatan ini juga membuka ruang inovasi bagi produsen tanpa harus menyeragamkan desain baterai.
BRIN juga telah mengembangkan prototipe stasiun pengisian cepat roda dua bernama SONIK R2, dengan kapasitas hingga 6,6 kW yang mampu memangkas waktu pengisian hingga sekitar 20 menit.
Dalam implementasinya, sistem ini menggunakan teknologi pengendali pengisian kendaraan listrik untuk memastikan kompatibilitas dengan berbagai jenis baterai dari berbagai produsen.
Saat ini, usulan standar tersebut tengah dibahas bersama Badan Standardisasi Nasional, serta melibatkan kementerian, asosiasi industri, dan mitra swasta.
ANTARA









