JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional mengembangkan inovasi katalis nanokarbon berbasis limbah baterai untuk menghasilkan hidrogen dari air sebagai sumber energi alternatif ramah lingkungan.

Penelitian ini dipimpin oleh Indri Badria Adilina dari Pusat Riset Katalisis BRIN, yang memanfaatkan material karbon dari baterai bekas melalui pendekatan nanoteknologi.

Indri menjelaskan, karbon dari limbah baterai memiliki keunggulan berupa konduktivitas listrik tinggi setelah dimodifikasi, sehingga mampu menghantarkan elektron secara efektif dalam proses elektrokatalitik.

“Material berbasis karbon ini berpotensi besar sebagai bahan baku katalis. Dengan rekayasa nanoteknologi, dapat dikembangkan menjadi material maju berstruktur nano yang efisien untuk berbagai reaksi katalitik,” ujarnya.

Katalis nanokarbon tersebut memiliki luas permukaan besar dan struktur berpori, yang mampu meningkatkan efisiensi transfer elektron dalam proses electrocatalytic water splitting untuk menghasilkan hidrogen dan oksigen.

Proses ini menghasilkan green hydrogen, yakni bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan energi fosil.

Dalam risetnya, tim peneliti melakukan berbagai uji karakterisasi, mulai dari analisis morfologi hingga struktur nano menggunakan teknologi seperti scanning electron microscopy (SEM) dan transmission electron microscopy (TEM).

Selain itu, analisis lanjutan dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas akselerator seperti sinkrotron sinar-X dan neutron scattering guna memahami struktur material hingga tingkat atomik.

Penelitian ini juga melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Universitas Gadjah Mada serta mitra internasional dari Inggris dan Thailand dalam pemanfaatan fasilitas riset skala besar.

Indri menambahkan, lebih dari 90 persen industri membutuhkan katalis dalam proses produksinya, mulai dari sektor kedokteran, tekstil, hingga pangan.

Ia berharap inovasi ini dapat mendorong keterlibatan industri dalam pengembangan teknologi berbasis ekonomi sirkular, sekaligus mempercepat transisi menuju industri yang lebih efisien dan berkelanjutan.

ANTARA