PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Para pedagang makanan dan minuman di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), saat ini dibuat resah akibat lonjakan harga plastik kemasan yang mencapai hingga 50 persen atau lebih.

Kenaikan ini diduga dipicu oleh gangguan pasokan bahan baku plastik berupa nafta dari Timur Tengah, imbas konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz. 

Kondisi tersebut diperparah dengan ketergantungan impor nafta Indonesia yang mencapai sekitar 60 persen serta naiknya harga minyak mentah global.

Salah seorang pedagang makanan, Yuli, mengaku kenaikan harga plastik sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak Ramadan lalu.

“Untuk plastik thinwall ukuran 3.000 ml per kemasan, awalnya hanya Rp2.500, sekarang jadi Rp4.500,” ujarnya.

Ia juga mengaku belum mengetahui harga terbaru saat ini karena stok kemasan miliknya sudah habis.

“Hari ini kemasan saya habis, rencananya mau beli lagi, tapi belum tahu berapa harganya sekarang. Semoga tidak terus naik,” tambahnya.

Kondisi ini membuat para pedagang terpaksa memutar otak agar tetap bisa bertahan di tengah naiknya biaya operasional.

"Untuk menaikkan harga jual makanan, saya tidak berani. Karena akan berpengaruh pada pendapatan. Untuk saat ini saya terpaksa harus rela dengan keuntungan yang semakin menipis yang penting tidak kehilangan konsumen. Masih syukur ada yang beli," jelas Yuli. (WAHYU KRIDA/j)