JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Ratusan siswa dan guru di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Jumlah korban sementara peristiwa pada Kamis, 2 April 2026, tercatat mencapai 135 orang, tersebar di sejumlah sekolah di Kecamatan Duren Sawit.

Salah satu orang tua siswa, berinisial Z, mengungkapkan informasi awal diperoleh dari grup komunikasi sekolah. Para siswa mulai mengalami gejala usai menyantap menu MBG yang dibagikan sekitar pukul 11.00 WIB.

Menurutnya, menu berbeda pada hari kejadian membuat banyak siswa langsung mengonsumsi makanan di sekolah.

“Biasanya dibawa pulang, tapi karena menunya spaghetti, banyak yang langsung makan di tempat,” ujarnya, Sabtu, 4 April 2026.

Tak hanya siswa, sebagian makanan juga dibawa pulang dan dikonsumsi anggota keluarga. Akibatnya, sejumlah orang tua turut mengalami gejala serupa.

Keluhan yang muncul antara lain demam, pusing, muntah, diare, hingga sesak napas. Beberapa kasus bahkan memerlukan penanganan intensif di rumah sakit.

Z menyebut, anaknya yang duduk di kelas 2 SD menjadi salah satu yang terdampak meski hanya mengonsumsi sebagian makanan.

“Tidak habis, tapi tetap demam sampai sekarang. Banyak juga yang muntaber,” katanya.

Lonjakan pasien sempat membuat fasilitas kesehatan kewalahan. Puskesmas setempat dilaporkan penuh, sehingga sebagian korban dirujuk ke RSUD Duren Sawit.

Data sementara dari pihak pendidikan setempat mencatat, kasus tersebar di beberapa sekolah. Di antaranya SDN Pondok Kelapa 09 sebanyak 33 siswa, SDN Pondok Kelapa 01 sebanyak 37 siswa, SDN Pondok Kelapa 07 sebanyak 31 siswa, serta SMAN 91 dengan total 34 orang terdiri dari siswa dan tenaga pendidik.

Dari total tersebut, 15 orang harus menjalani perawatan intensif, sementara lainnya menjalani rawat jalan.

Diduga, makanan berasal dari penyedia yang sama. Namun hingga kini, identitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) belum dipastikan.

Orang tua juga menyoroti minimnya informasi resmi terkait penyebab kejadian. Komunikasi yang diterima sejauh ini lebih berfokus pada penanganan korban.

“Belum ada penjelasan soal penyebab atau menu. Hanya imbauan untuk segera berobat,” ujarnya.

Insiden ini memicu kekhawatiran orang tua terhadap kualitas dan pengawasan program MBG yang telah berjalan sekitar enam bulan.

Sebagian bahkan mendorong evaluasi menyeluruh, termasuk opsi perubahan mekanisme distribusi makanan.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak penyelenggara maupun otoritas terkait mengenai penyebab pasti dugaan keracunan tersebut. Pendataan korban dan penanganan medis masih terus dilakukan.

ANTARA