JAKARTA –

BORNEONEWS, Istanbul – Iran dilaporkan mengabaikan usulan gencatan senjata selama 48 jam yang diajukan Amerika Serikat di tengah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Menurut laporan kantor berita semi-resmi Fars News Agency, Washington mengajukan proposal tersebut pada 2 April melalui negara perantara.

Namun, Teheran tidak memberikan respons resmi secara tertulis. Sebaliknya, Iran disebut merespons langsung di lapangan dengan melanjutkan operasi militer berintensitas tinggi.

Sumber yang sama menyebut, langkah diplomatik AS dilakukan setelah meningkatnya tekanan terhadap pasukannya di kawasan, termasuk menyusul serangan terhadap depot militer di Pulau Bubiyan, Kuwait.

Sebelumnya, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan wilayah Israel, serta sejumlah negara di kawasan seperti Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.

Rangkaian serangan tersebut menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, sekaligus memperburuk ketidakpastian global, termasuk pada sektor energi dan penerbangan.

Hingga kini, belum terlihat tanda-tanda deeskalasi, meski upaya diplomatik terus dilakukan di tengah meningkatnya tensi kawasan.

ANTARA