PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kinerja Bank Perkreditan Rakyat atau BPR dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah atau BPRS di Provinsi Kalimantan Tengah pada Februari 2026 tercatat mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terlihat dari sejumlah indikator utama yang mengalami kontraksi secara tahunan.

Pengawas Lembaga Jasa Keuangan Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Kalimantan Tengah, Raden Anggy Priansyah, mengungkapkan bahwa dari sisi aset, BPR dan BPRS mengalami penurunan sebesar Rp270,34 miliar atau minus 11,12 persen secara year-on-year (yoy).

“Aset turun dari Rp2,43 triliun pada Februari 2025 menjadi Rp2,16 triliun pada Februari 2026,” jelas Anggy pada Sabtu, 4 April 2026.

Selain itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mengalami penurunan cukup signifikan. "Tercatat DPK turun sebesar Rp322,24 miliar atau minus 23,27 persen yoy, dari Rp1,38 triliun menjadi Rp1,06 triliun," katanya lagi.

Penurunan juga terjadi pada penyaluran kredit atau pembiayaan. Nilainya menyusut Rp643,13 miliar atau minus 31,77 persen yoy, dari Rp2,02 triliun menjadi Rp1,38 triliun.

Kondisi ini, menurut Anggy, menjadi perhatian bagi OJK untuk terus memperkuat kinerja BPR dan BPRS, terutama dalam menjaga stabilitas dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keuangan tersebut. (TESTI PRISCILLA/y)