BORNEONEWS, Palangka Raya - Gejolak konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran kini tidak lagi terasa jauh. Dampaknya mulai merembet hingga ke sektor ekonomi daerah, termasuk di Palangka Raya.
Anggota DPRD Palangka Raya, Khemal Nasery, mengingatkan bahwa gangguan pasokan nafta sebagai bahan utama plastik menjadi ancaman nyata bagi pelaku usaha kecil.
Ia menjelaskan, nafta yang merupakan turunan minyak bumi sangat bergantung pada pasokan dari kawasan Timur Tengah. Ketika jalur distribusi terganggu akibat konflik, industri petrokimia global ikut terdampak dan memicu lonjakan harga bahan baku plastik.
“Ini bukan sekadar isu global. Dampaknya sudah dirasakan langsung oleh pelaku usaha kita, terutama UMKM yang sangat bergantung pada kemasan plastik,” ujar Khemal, Minggu 5 April 2026.
Kenaikan harga plastik pun tidak bisa dianggap ringan. Sejumlah laporan menunjukkan lonjakan harga mencapai 30 hingga 40 persen, bahkan di beberapa sektor bisa lebih tinggi.
Kondisi ini membuat harga kantong plastik, cup plastik, hingga kemasan makanan seperti thinwall naik signifikan di pasaran.
Bagi UMKM dan pedagang kecil, situasi ini menjadi tekanan berlapis. Di satu sisi, biaya produksi meningkat akibat mahalnya kemasan.
Di sisi lain, daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih, sehingga kenaikan harga jual berisiko menurunkan omzet.
Khemal menilai, pelaku UMKM kini berada dalam posisi serba sulit. Mereka dipaksa memilih antara menaikkan harga makanan atau mengurangi penggunaan plastik, yang keduanya sama-sama berisiko terhadap keberlangsungan usaha.
“Kalau harga dinaikkan, pembeli bisa berkurang. Tapi kalau tidak, pelaku usaha yang menanggung beban. Ini situasi yang tidak sehat bagi UMKM,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor menunjukkan lemahnya ketahanan ekonomi lokal. Tanpa strategi mitigasi yang jelas, setiap gejolak global akan terus berdampak langsung ke sektor usaha kecil di daerah.
Karena itu, Khemal mendorong pemerintah daerah untuk lebih responsif, mulai dari mendorong penggunaan kemasan alternatif hingga memperkuat kebijakan perlindungan bagi UMKM.
Menurutnya, tanpa langkah konkret, pelaku usaha kecil akan terus menjadi pihak yang paling terdampak setiap kali krisis global terjadi.
"Untuk itu kami sarankan agar penggunaan ramah lingkungan pengganti plastik seperti bakul purun. Sekaligus memperkenalkan kekayaan alam daerah kita dari bahan alami khas daerah," pungkasnya. (MARINI/H)









