BORNEONEWS, Nanga Bulik – Sejumlah dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kalimantan Tengah untuk sementara waktu tidak beroperasi sejak awal April 2026. Salah satunya berada di Kabupaten Lamandau, tepatnya di Kota Nanga Bulik, yang menghentikan layanan akibat proses pembenahan fasilitas pengolahan limbah.
Penghentian ini dilakukan karena dapur MBG tersebut masih dalam tahap pemasangan Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) serta penyesuaian standar kebersihan. Informasi penghentian sementara ini telah disampaikan pihak sekolah kepada orang tua siswa pada Kamis, 2 April 2026
Berdasarkan penelusuran, kebijakan tersebut mengacu pada Keputusan Kepala Badan Gizi Nasional Nomor 401.1 Tahun 2025 tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Program MBG Tahun Anggaran 2026. Selain itu, laporan Koordinator Regional Kalimantan Tengah per 31 Maret 2026 menyebutkan sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) belum memenuhi standar, baik dari sisi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) maupun kelengkapan IPAL.
Secara keseluruhan, terdapat delapan SPPG di Kalimantan Tengah yang terdampak penghentian sementara ini, termasuk di Lamandau. Fasilitas-fasilitas tersebut dinilai belum memenuhi persyaratan teknis yang ditetapkan, sehingga perlu dilakukan perbaikan guna menjamin kualitas dan keamanan pangan bagi penerima manfaat.
Kepala Dapur SPPG Nanga Bulik, Ayu Mutiara Simanjuntak, membenarkan penghentian tersebut. Ia menjelaskan bahwa pihaknya saat ini tengah melakukan pembenahan sistem IPAL agar sesuai dengan standar yang berlaku.
“Kami sedang melakukan perbaikan agar kualitas produksi, mutu gizi, dan keamanan pangan tetap terjaga,” katanya, senin 6 april 2026
Selain di Lamandau, penghentian juga terjadi di beberapa daerah lain seperti Palangka Raya, Gunung Mas, Kapuas, Pulang Pisau, Murung Raya, dan Seruyan. Dapur-dapur tersebut dikelola oleh berbagai yayasan dan kini tengah melakukan penyesuaian fasilitas sesuai ketentuan.
Di sisi lain, kebijakan ini memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat. Sejumlah pelajar mengaku kecewa karena program yang dinantikan harus terhenti sementara. Namun, sebagian orang tua justru mendukung langkah tersebut demi memastikan aspek kebersihan dan kesehatan terpenuhi.
“Lebih baik dihentikan dulu untuk diperbaiki. Kami ingin makanan yang diberikan benar-benar aman untuk anak-anak,” ungkap Rina, salah satu wali murid. Ia berharap proses perbaikan dapat segera selesai agar program MBG kembali berjalan dan dapat dinikmati para siswa. (NATALIA KRISTIN/y)









