BORNEONEWS, Banjarmasin - Meningkatnya kasus pembunuhan yang terjadi di Kalimantan Selatan belakangan ini menjadi perhatian serius berbagai kalangan. Fenomena penyelesaian konflik yang berujung pada penusukan hingga pembacokan dinilai bukan sekadar persoalan kriminal biasa, melainkan cerminan persoalan sosial yang lebih kompleks.
Pemerhati sosial HE Benyamine dari Akademi Bangku Panjang Mingguraya mengungkapkan, dari sejumlah kasus yang terjadi, terlihat adanya tekanan dan frustrasi di tengah masyarakat akibat perubahan sosial yang begitu cepat.
“Fenomena itu, dari beberapa kasus menunjukkan adanya frustrasi masyarakat yang diakibatkan oleh perkembangan sosial yang begitu cepat, sementara alat penyelesaian konflik sudah tidak mampu menyesuaikan dengan kondisi saat ini,” ungkapnya kepada Borneonews, Senin, 6 April 2026.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut semakin diperparah dengan berbagai faktor lain, seperti tekanan ekonomi, kurangnya keteladanan dalam lingkungan keluarga, serta maraknya penggunaan minuman keras dan obat-obatan terlarang.
“Jadi sudah frustrasi akibat persoalan ekonomi, tiadanya keteladanan ditambah maraknya penggunaan miras dan obat-obatan terlarang, yang berakibat pilihan kekerasan, meski dipicu hal sepele,” lanjutnya.
Menurutnya, kecenderungan masyarakat menyelesaikan konflik dengan kekerasan menjadi indikator lemahnya sistem pendidikan dan tingginya kesenjangan sosial di tengah masyarakat.
“Kondisi ini juga menandakan lemahnya sistem pendidikan, kesenjangan ekonomi yang sangat parah, pengangguran tinggi, serta runtuhnya kepercayaan pada keteladanan dan nilai-nilai sosial,” jelasnya.
Ia pun menekankan pentingnya peran pemerintah daerah untuk lebih serius melihat fenomena ini sebagai prioritas kebijakan, dengan melibatkan berbagai pihak guna mencari solusi yang komprehensif.
“Pemerintah daerah sudah seharusnya melihat fenomena ini dengan perhatian serius dan menjadi prioritas kebijakan, tentu dengan menggandeng para pihak,” tegasnya. (SABRIANOOR/j)









