PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Anggota Komisi II DPRD Palangka Raya, Erlan Audri, menyoroti maraknya isu kenaikan harga plastik yang dinilai berpotensi membebani pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya yang bergantung pada plastik sebagai bahan pengemasan produk.

Menurut Erlan, lonjakan harga plastik tidak hanya berdampak pada biaya produksi, tetapi juga dapat memengaruhi harga jual produk di tingkat konsumen. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini bisa menekan daya saing UMKM lokal yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

“Ketika harga plastik naik, otomatis biaya produksi UMKM ikut meningkat. Ini bisa berdampak langsung pada harga jual dan daya beli masyarakat,” ujarnya, Selasa 7 April 2026.

Ia menyarankan agar Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian Kota Palangka Raya segera melakukan pemantauan terhadap UMKM yang terdampak. Langkah ini penting untuk mengetahui sejauh mana dampak kenaikan harga tersebut serta merumuskan kebijakan yang tepat.

Erlan juga mendorong adanya langkah konkret dari pemerintah daerah, seperti fasilitasi alternatif bahan kemasan yang lebih terjangkau atau ramah lingkungan. Selain itu, dukungan berupa subsidi atau program pendampingan dinilai dapat membantu UMKM tetap bertahan di tengah tekanan biaya produksi.

Tidak hanya itu, ia menekankan pentingnya stabilisasi harga bahan baku melalui koordinasi dengan distributor maupun pemerintah pusat. Menurutnya, upaya ini perlu dilakukan agar fluktuasi harga tidak terlalu memberatkan pelaku usaha kecil.

“Pemerintah harus hadir memastikan UMKM tidak terbebani secara berlebihan. Jangan sampai kenaikan harga bahan baku justru mematikan usaha mereka,” tegasnya.

Ia berharap, dengan langkah pemantauan dan intervensi yang tepat, dampak kenaikan harga plastik dapat diminimalkan, sehingga UMKM di Kota Palangka Raya tetap mampu berkembang dan berkontribusi terhadap perekonomian daerah. (MARINI/H)