SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Bandara H. Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, menjelaskan bahwa tidak semua fenomena El Nino yang terjadi pada tahun 2026 dipastikan akan mencapai tingkat ekstrem.

Intensitas El Nino sangat bergantung pada kompleksitas interaksi antara laut dan atmosfer yang tidak selalu dapat diprediksi jauh-jauh hari secara akurat.

“Tidak semua El Nino akan menjadi ekstrem, tergantung intensitas laut di atmosfer yang kompleks dan tidak selalu bisa dipantau jauh-jauh hari,” terang Mulyono, Selasa, 7 April 2026.

El Niño adalah fenomena iklim alam di mana suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat dari biasanya.

Fenomena tersebut terjadi biasanya, angin pasat bertiup dari timur ke barat, mendorong air hangat ke arah Asia dan Australia sehingga air dingin naik ke permukaan di wilayah Amerika. Saat El Niño terjadi, angin ini melemah atau bahkan berbalik arah, sehingga air hangat tadi bergeser ke timur dan menaikkan suhu laut secara signifikan.

Dampaknya Indonesia dan Australia biasanya menyebabkan kemarau panjang, curah hujan sangat rendah, risiko kebakaran hutan, dan kekeringan.

"Kami BMKG akan melakukan analisis potensi El Nino secara berkala setiap bulan untuk memberikan informasi terbaru terkait perkembangan fenomena cuaca tersebut,” ujarnya.

Lebih jauh, Mulyono memaparkan data historis terkait intensitas El Nino berdasarkan indeks yang telah diamati sejak tahun 1950. Beberapa tahun dengan El Nino sangat kuat tercatat pada 1982 dengan nilai indeks antara 2,0 sampai 2,9, kemudian di tahun 1997 dan 1998 dengan indeks 2,1 hingga 2,4, serta pada 2015 dan 2016 yang juga menunjukkan indeks sangat kuat mencapai 2,8.

“Kita lihat stories-nya yaitu event yang sering dikategorikan sangat kuat, seperti pada tahun 1982 dengan indeks di atas 2,0, kemudian 1997-1998 dan 2015-2016 dengan nilai indeks yang sangat kuat,” jelasnya.

Terkait tahun 2026, ia menegaskan bahwa BMKG masih terus memantau perkembangan fenomena tersebut dan akan segera menyampaikan update apabila terdapat perubahan signifikan.

“Untuk tahun 2026, kita masih memantau dan nanti kalau ada update akan segera kami sampaikan,” tandasnya.

Penjelasan tersebut menjadi penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dan pemangku kebijakan tentang potensi risiko cuaca ekstrem yang dapat timbul akibat El Nino, sehingga langkah mitigasi dan antisipasi dapat dilakukan tepat waktu. (DEVIANA/H)