BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Ada sejumlah faktor positif di pasar komoditas global yang kemungkinan dapat mempengaruhi pergerakan harga minyak sawit pada perdagangan pada Kamis (29/12/2016).

Faktor utama tentunya adalah pergerakan positif dari beberapa harga minyak nabati yang menjadi pesaing minyak sawit, terutama di pasar komoditas Chicago Board of Trade (CBOT), AS, Dalian Commodity Exchange, Tiongkok, dan National Commodity & Derivatives Exchange Ltd (NCDEX), India, pada perdagangan Rabu (28/12).

Untuk faktor berikutnya adalah pergerakan positif harga minyak sawit Malaysia hingga mencapai level tertinggi dalam satu setengah pekan, yang ditopang oleh ketatnya ppasokan dan meningkatnya ekspor.

Namun demikian, jatuhnya harga kontrak jagung, gandum dan biji kedelai di pasar komoditas AS, diperkirakan juga akan mempengaruhi pergerakan harga minyak sawit. Pelemahan itu sendiri lebih disebabkan oleh sepinya perdagangan menjelang tutup tahun dan menguatnya dolar AS, kata analis yang dikutip Reuters.

Selain itu, harga minyak mentah yang menguat di New York semalam hingga menembus level tertinggi sejak medio 2015, juga diyakini akan difaktorkan oleh para pelaku pasar di pasar komoditas hari ini. 

Sebelumnya, harga futures minyak sawit Malaysia menguat menuju level tertinggi dalam satu setengah pekan terakhir pada perdagangan Rabu (28/12), yang merupakan penguatan dalam dua sesi berturut-turut.

Penopang penguatan harga ini adalah ketatnya pasokan ke pasar dan meningkatnya ekspor minyak sawit Malaysia, kata analis yang dikutip Reuters.

Futures minyak sawit untuk kontrak Maret, 1FCPOc3, di Bursa Malaysia Derivatives Exchange, naik tipis 0,1 persen menjadi 3.130 ringgit ($699) per to di akhir perdagangan Rabu, setelah sempat menyentuh level 3.153 ringgit pada sesi pertama perdagangan, yang merupakan level tertinggi sejak 19 Desember.

Volume transaksi tercatat sebesar 37.024 lot, masih di bawah rata-rata harian pada 2015 yang sebesar 44.600 lot. (NEDELYA RAMADHANI/m)