SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mentaya Sampit Ismanadi mengungkapkan kekhawatiran serius terkait dampak kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap ketersediaan dan kualitas air baku yang menjadi sumber utama distribusi air bersih bagi masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur.

“Penurunan debit sungai sudah mulai mengganggu operasional penyaluran air bersih, saat ini juga kami sudah merasakannya di daerah selatan,” ujarnya,  Rabu, 8 April 2026.

Menurut Usman, fungsi produksi air bersih sangat tergantung pada kondisi pasang surut air sungai. Saat debit sungai menurun, PDAM harus menunggu ketika air pasang baru dapat menyediakan air baku untuk diolah menjadi air bersih. 

“Ketika air pasang masuk baru bisa kita sediakan air baku untuk produksi menjadi air bersih,” jelasnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kondisi alam yang ekstrem di musim kemarau dan kebakaran hutan turut memberi tekanan pada sistem penyediaan air bersih yang menjadi kebutuhan vital masyarakat dan berbagai sektor di daerah ini.

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi  Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setempat bulan September 2026 telah memasuki musim kemarau, namun puncaknya pada Oktober 2026.

Menghadapi kondisi tersebut, PDAM Tirta Mentaya telah melakukan langkah-langkah preventif dan responsif guna menjaga kontinuitas pelayanan air bersih kepada pelanggan. 

“Kami melakukan langkah preventif dan responsif untuk menjaga kontinuitas pelayanan air kepada masyarakat,” kata Usman.

Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu meminimalkan gangguan layanan sekaligus menjaga kualitas air yang disalurkan, meskipun tantangan akibat kondisi lingkungan yang tidak stabil terus dihadapi.

Situasi ini menandai perlunya sinergi antara instansi teknis, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mengelola sumber daya air secara berkelanjutan di tengah tekanan perubahan iklim dan ancaman bencana alam. (DEVIANA/j)