BORNEONEWS, Sampit – Untuk menghadapi ancaman kekeringan yang diprediksi akan terjadi pada tahun 2026 ini, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kotawaringin Timur mengimplementasikan berbagai teknik budidaya adaptif bagi petani lokal.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Yulita, menjelaskan bahwa penggunaan varietas tanaman tahan kekeringan menjadi langkah utama dalam menjaga produktivitas pangan.
“Kami menyarankan petani menggunakan varietas padi Invaco 8, jagung HJ-18, dan cabai Dewata 43 yang tahan di lahan kering atau tanpa genangan air,” ujar Yulita, Rabu, 8 April 2026.
Selain pemilihan varietas, pihaknya juga menganjurkan penyesuaian jangka waktu tanam agar lebih direnggangkan selama musim kemarau. Pengelolaan tanah secara minimal juga direkomendasikan untuk menjaga kelembaban tanah agar tetap optimal.
“Untuk menjaga kelembaban tanah, kami juga menyarankan penggunaan mulsa sebagai penutup tanah yang efektif mengurangi penguapan dan penggunaannya tahan lama, bisa juga menggunakan jerami atau daun kering,” imbuhnya.
Dalam hal penjadwalan, Yulita memaparkan tiga musim tanam yang umum diterapkan, yakni musim tanam pertama pada Oktober hingga Januari, musim tanam kedua di Februari hingga Maret, dan musim tanam ketiga pada bulan Juni hingga September yang bertepatan dengan musim kemarau.
“Pada musim tanam ketiga saat memasuki puncak kemarau di Agustus, kami merekomendasikan untuk mengistirahatkan lahan padi dan menggantinya dengan tanaman palawija atau tumpang sari agar produktivitas tetap terjaga,” jelas Yulita.
Untuk memandu penjadwalan tanam secara tepat, pihaknya menggunakan kalender tanam terpadu (Katam) yang berbasis data dari BMKG, memungkinkan penyesuaian yang akurat sesuai kondisi cuaca.
Ia menegaskan bahwa ancaman kekeringan merupakan tantangan serius yang harus dihadapi dengan pendekatan teknis dan infrastruktur.
“Selain teknik budidaya, kami juga mengandalkan infrastruktur seperti pompanisasi, embung, sumur bor, dan irigasi hemat air untuk mengatasi kekeringan,” tutur Yulita.
Teknologi sederhana seperti pemanfaatan mulsa dan introduksi teknik hidroponik untuk sayur-sayuran juga menjadi bagian dari strategi adaptasi.
“Antisipasi kekeringan bukan hanya soal ketersediaan air, tetapi bagaimana kita mengelola sumber daya dengan cerdas menerapkan dua metode yakni teknik dan infrastruktur,” pungkasnya.
Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan Kotawaringin Timur menghadapi perubahan iklim yang semakin dinamis dan ketidakpastian musim di masa mendatang. (DEVIANA/j)








