BORNEONEWS, Pulang Pisau – Upaya pengembangan ekowisata di Pulau Salat dinilai telah memenuhi konsep wisata berbasis konservasi. Namun demikian, aspek akses menuju kawasan tersebut masih menjadi perhatian, terutama terkait adanya aktivitas pertambangan yang dinilai dapat memengaruhi citra pariwisata.
Kepala departemen sustainability PT. SSMS Group CBI Andri Najiburahhman, menyampaikan bahwa konsep utama yang diusung di kawasan tersebut adalah konservasi, khususnya perlindungan habitat orangutan yang menjadi ikon Kalimantan Tengah. Menurutnya, pengembangan wisata tidak hanya berfokus pada satwa, tetapi juga mencakup perlindungan lingkungan secara menyeluruh.
“Kalau kita bicara ekowisata Pulau Salat, sebenarnya sudah sesuai dengan konsep wisata konservasi. Fasilitas juga sudah ada, namun yang perlu diperhatikan adalah proses menuju ke lokasi,” ujar Andri, Rabu, 8 April 2026.
Ia menjelaskan, dalam perjalanan menuju Pulau Salat masih ditemukan sejumlah aktivitas pertambangan, seperti pengambilan pasir. Kondisi ini kerap menjadi perhatian wisatawan, terutama dari luar negeri, yang mempertanyakan aktivitas tersebut.
“Ketika ada tamu asing berkunjung, mereka sering bertanya terkait aktivitas itu. Ini tentu menjadi catatan karena dapat menimbulkan citra negatif terhadap kawasan yang kita promosikan sebagai destinasi konservasi,” katanya.
Menurut Andri, keberadaan aktivitas tersebut memang tidak berada langsung di area konservasi, namun berada di jalur akses menuju Pulau Salat. Hal ini dinilai tetap berpengaruh terhadap kesan awal wisatawan.
Ia menekankan bahwa pihaknya tidak serta-merta meminta aktivitas pertambangan dihilangkan, namun diharapkan dapat dikurangi dan mendapat perhatian dari pemerintah setempat.
“Tidak harus dihilangkan, tapi setidaknya bisa dikurangi. Sehingga tujuan utama kita dalam menampilkan kawasan konservasi tidak terganggu oleh aktivitas lain yang berdampak kurang baik,” jelasnya.
Secara umum tentu berpengaruh, baik terhadap lingkungan maupun citra pariwisata. Ini menjadi perhatian bersama agar pengembangan wisata tetap berjalan selaras dengan upaya konservasi. (RETHA/H)









