SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur, Nugroho Kuncoro Yudho, mengungkapkan analisis tren kasus penyakit sejak 2022 hingga triwulan pertama 2026 serta implikasinya terhadap pengelolaan kesehatan masyarakat di tengah kondisi musim kemarau panjang.

“Dari data kami sejak 2022 sampai 2025, kasus banyak terjadi di Kecamatan Parenggean, sedangkan di triwulan pertama 2026 kasus masih cukup rendah namun di Mentawa Baru Ketapang kasus terbilang cukup tinggi sehingga perlu kewaspadaan,” ujar Nugroho, Kamis, 9 April 2026.

Meskipun terjadi penurunan kasus diare secara bertahap sejak tahun 2023 hingga 2025, data triwulan pertama 2026 menunjukkan sebanyak 1.573 kasus diare. Jika tren ini berlanjut ditambah musim kemarau, kasus diprediksi akan melampaui rekor tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau ini penggerak terus dan ditambah musim kemarau, maka kasus akan melampaui data tahun 2025, 2024, dan 2023,” kata Nugroho.

Sementara itu, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) juga menjadi perhatian karena intensitasnya cukup tinggi terutama di MB Ketapang dan Parenggean yang sangat terpengaruh oleh musim kemarau.

Nugroho menjelaskan bahwa keberadaan genangan air kecil menjadi tempat berkembang biak nyamuk yang dapat menularkan berbagai penyakit.

Meskipun Kotim telah berhasil mengeliminasi malaria sejak 2018, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tetap terjadi tiap tahun. Meskipun penurunan kasus terjadi pada 2024 dan 2025 dibanding 2023, DBD masih menjadi ancaman serius.

“Kasus demam berdarah di tahun 2023 sangat tinggi, tren naik secara nasional. Sampai Maret 2026 sudah terjadi 37 kasus. Jika tren berlanjut, kasus dapat naik di atas tahun 2025 walaupun tidak setinggi tahun 2023,” jelasnya.

Kondisi cuaca panas yang berkepanjangan dengan dampak pada sektor pertanian yang berpotensi menyebabkan gagal panen dan berdampak pada masalah gizi masyarakat.

Sebagai langkah antisipasi, ia mengimbau masyarakat untuk menerapkan penghematan air dan menggunakan air hanya untuk kebutuhan penting.

“Strategi kami yakni melakukan penghematan air dengan memakai air hanya untuk konsumsi penting-penting saja,” tutup Nugroho. (DEVIANA/R)