SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) akan mengalami musim kemarau yang cukup panjang pada tahun 2026, dengan durasi mencapai sekitar 120 hari.

"Untuk Kotim bagian utara, kecuali Teluk Sampit dan Pulau Hanaut, awal musim kemarau di Juni dasarian pertama atau sekitar 1 Juni. Durasi kemaraunya sekitar 120 hari hingga akhir September, ini lebih panjang dari normalnya," kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotim, Mulyono Leo Nardo, Jumat, 10 April 2026.

Sementara itu, untuk wilayah Teluk Sampit dan Pulau Hanaut, musim kemarau diperkirakan datang sedikit lebih lambat pada dasarian ketiga Juni atau sekitar 21 Juni, dengan durasi yang relatif sama hingga akhir September.

Sedangkan puncak musim kemarau di Kotim diprediksi terjadi pada Agustus 2026. Dari sisi kelembaban udara, kondisi di Kotim masih tergolong tinggi. Pada pagi hari, kelembaban berkisar antara 95 hingga 100 persen, sedangkan siang hari berada di kisaran 70 hingga 80 persen.

"Kalau musim kemarau, kelembaban masih di kisaran normal, sekitar 70 sampai 90 persen," tambahnya. BMKG juga memprediksi musim kemarau tahun ini datang lebih awal dengan durasi lebih panjang, yang dipengaruhi oleh potensi fenomena El Nino dengan kategori lemah hingga moderat.

Selain itu, saat ini wilayah Kotim diperkirakan sudah mulai memasuki fase pancaroba atau peralihan musim, yang berlangsung sekitar April hingga Mei.

Pada fase ini, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti angin kencang dan hujan lebat yang bisa terjadi secara tiba-tiba.

"Dalam masa pancaroba, kejadian cuaca ekstrem lebih sering terjadi, sehingga perlu diwaspadai," katanya.

Terkait potensi El Nino, BMKG memperkirakan tidak akan berada pada kategori kuat, melainkan cenderung moderat hingga melemah.

Sebagai langkah antisipasi, BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan, mengingat durasi kemarau yang cukup panjang.

Selain itu, masyarakat juga diminta menjaga kesehatan, menggunakan air secara bijak, serta tetap menjaga kebugaran tubuh selama musim kemarau berlangsung. (DEWI PATMALASARI/R)