BORNEONEWS, Sampit – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotawaringin Timur (Kotim) menyiapkan skema pembenahan Taman Miniatur Budaya Sampit.
Sejumlah bangunan yang mengalami kerusakan berat direncanakan akan dibangun ulang karena tidak lagi memungkinkan untuk direhabilitasi.
"Penataan taman miniatur budaya akan segera kita lakukan secara bertahap. Harapannya selama saya menjabat, penanganan awal sudah bisa dimulai dengan anggaran yang tersedia," kata Kepala Disbudpar Kotim, Ramadansyah, Jumat, 10 April 2026.
Kondisi Taman Miniatur Budaya yang berada di Jalan Karang Taruna Sampit saat ini dinilai cukup memprihatinkan. Banyak bangunan terlihat rusak, bahkan sebagian terkesan terbengkalai dan tidak terawat, dengan area yang dipenuhi semak dan rumput liar.
Salah satu bangunan yang mengalami kerusakan paling parah adalah Rumah Betang. Struktur bangunan yang didominasi material kayu sudah banyak mengalami pelapukan, sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan perbaikan ringan.
"Untuk Rumah Betang kondisinya sudah rusak berat. Banyak bagian kayu yang hancur, sehingga opsi terbaik adalah membangun ulang," tambahnya.
Terkait pembangunan ulang tersebut, Disbudpar masih mempertimbangkan jenis material yang akan digunakan. Opsi penggunaan kayu tetap terbuka, namun ada juga kemungkinan menggunakan beton dengan desain yang menyerupai bentuk aslinya.
Namun keterbatasan anggaran daerah menjadi tantangan utama dalam merealisasikan rencana tersebut. Oleh sebab itu, pembangunan ulang belum bisa dilakukan dalam waktu dekat.
Sebagai solusi alternatif, Disbudpar membuka peluang kerja sama dengan pihak ketiga, termasuk perusahaan swasta di wilayah Kotim, untuk turut berkontribusi dalam revitalisasi kawasan tersebut.
"Jika anggaran tidak mencukupi, kami akan menggandeng pihak swasta agar bersama-sama peduli terhadap keberadaan taman miniatur budaya ini," ujarnya.
Ramadansyah menegaskan, kawasan tersebut memiliki nilai penting sebagai representasi keberagaman budaya masyarakat di Kotim. Oleh karena itu, pelestarian dan penataan kawasan menjadi hal yang perlu mendapat perhatian bersama.
"Miniatur budaya ini adalah simbol kebhinekaan di Kotim, sehingga harus dijaga dan dirawat bersama," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI)









