PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Sektor kelapa sawit terus menjadi tulang punggung perekonomian di Kalimantan Tengah. Dalam Focus Group Discussion atau FGD yang digelar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Palangka Raya pada Kamis, 9 April 2026, Sekretaris Eksekutif GAPKI Kalteng, Rawing Rambang, memaparkan gambaran komprehensif kontribusi sektor ini terhadap ekonomi daerah.

Rawing menyebut, kondisi ekonomi Kalimantan Tengah menunjukkan tren positif. Pada 2025, Produk Domestik Regional Bruto atau PDRB atas dasar harga konstan tercatat mencapai Rp124,4 triliun dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,80 persen.

"Sektor perkebunan sendiri memberikan kontribusi signifikan, yakni 14,66 persen terhadap PDRB," kata Rawing Rambang kepada Borneonews pada Jumat, 10 April 2026.

Dari sisi kesejahteraan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kalimantan Tengah berada di angka 74,86 persen dengan pertumbuhan rata-rata 0,61 persen per tahun sejak 2020.

Sementara itu, jumlah penduduk miskin tercatat sekitar 141,75 ribu orang atau 5,19 persen, dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 68,40 persen dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 3,97 persen.

Lebih lanjut, Rawing mengungkapkan luas perkebunan sawit di Kalimantan Tengah mencapai 1,58 juta hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 240 ribu hektare atau 15,11 persen merupakan lahan milik masyarakat. Sektor ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, yakni sekitar 317.769 orang.

“Ini menunjukkan bahwa sawit bukan hanya sektor ekonomi, tetapi juga penopang utama kesejahteraan masyarakat. Karena itu, pengelolaan kebun masyarakat, termasuk pola plasma, harus diperkuat agar manfaatnya semakin merata,” jelas Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng ini.

Dari sisi industri, terdapat 138 pabrik kelapa sawit (PKS) dengan kapasitas mencapai 1.054 ton tandan buah segar (TBS) per jam operasional. Produksi TBS dari kebun inti tercatat sekitar 12,13 juta ton, sementara kebun masyarakat menyumbang sekitar 1,24 juta ton.

Rawing menegaskan, besarnya potensi tersebut harus diimbangi dengan tata kelola yang baik melalui kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat.

"Dengan demikian, sektor sawit dapat terus menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus mendukung kemandirian fiskal daerah di Kalimantan Tengah," tegasnya.(TESTI PRISCILLA)