BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menjajaki penerapan Program Sistem Integrasi Sapi-Sawit (SISKA) dengan melibatkan perusahaan besar swasta (PBS) sebagai upaya meningkatkan ketahanan pangan sekaligus mendorong swasembada protein.
"Kalau bicara pembangunan manusia, protein memiliki peran sangat besar. Selama ini kita masih bergantung dari luar daerah untuk kebutuhan daging, sehingga harga sering berada di atas HET," kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotim, Yephi Hartady Periyanto, Jumat, 10 April 2026.
Hal tersebut ia sampaikan saat rapat koordinasi mengenai persiapan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Perusahaan Stake Holder Perkebunan Kelapa Sawit dalam rangka penjajakan potensi progran SISKA.
Ia mengatakan program tersebut menjadi salah satu langkah strategis dalam pembangunan sektor peternakan yang terintegrasi dengan perkebunan kelapa sawit.
Menurutnya, pemenuhan kebutuhan protein menjadi hal penting dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia. Ia menilai, selama ini ketergantungan terhadap pasokan daging dari luar daerah masih cukup tinggi.
Ia menjelaskan, program SISKA merupakan tindak lanjut dari arahan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui surat Gubernur Nomor 067/DTPHP/PKH-510/1/2026 tertanggal 15 Januari 2026 terkait pelaksanaan integrasi sapi dan sawit.
Selain itu, program tersebut juga merupakan hasil pembahasan dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama DPRD Kotim, yang salah satunya menyoroti kewajiban 20 persen fasilitas pembangunan kebun masyarakat (FPKMS), di mana SISKA menjadi salah satu model implementasinya.
Yephi menyebutkan, saat ini pihaknya masih dalam tahap penjajakan dengan mengundang perusahaan-perusahaan perkebunan untuk berdiskusi terkait potensi penerapan program tersebut di Kotim.
"Ini masih tahap awal, kita tidak langsung memaksakan. Kita ingin melihat kesiapan dan potensi di lapangan apakah program SISKA ini bisa berjalan optimal," tambahnya.
Lanjutnya, integrasi sapi-sawit dinilai memiliki potensi besar karena dapat memanfaatkan lahan perkebunan sebagai area penggembalaan sekaligus mendukung efisiensi usaha peternakan.
Ia menyoroti, selama ini Kotim hanya fokus pada satu komoditas, seperti kelapa sawit. Padahal seiring meningkatnya harga tandan buah segar sawit akan meningkat pula kebutuhan lainnya ternasuk daging.
"Kalau terlalu fokus pada satu komoditas, maka daerah akan kekurangan komoditas lain. Dampaknya harga kebutuhan seperti daging, telur, dan ayam terus naik," katanya.
Menurutnya, dengan adanya program SISKA, diharapkan dapat menciptakan keseimbangan produksi pangan di daerah serta mengurangi ketergantungan pasokan dari luar.
"Program ini punya potensi besar untuk mendukung swasembada protein, khususnya daging sapi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









