BORNEONEWS, Sampit – Menyusul prediksi kemarau panjang akibat fenomena El Niño, petani di Kabupaten Kotawaringin Timur mulai mengambil langkah antisipasi untuk menjaga produktivitas pertanian. Salah satu upaya utama adalah pembangunan embung sebagai cadangan air yang dapat dimanfaatkan saat musim kemarau berlangsung.
Ketua Kelompok Tani Mandiri Makmur, Sutiawan, menyampaikan bahwa para petani secara aktif memantau informasi terkait potensi perubahan iklim yang berpengaruh pada sektor pertanian.
“Walaupun kami petani, kami tetap memantau informasi yang berkaitan dengan pertanian, termasuk potensi El Niño. Karena itu sejak awal kami sudah menyiapkan langkah antisipasi,” ujarnya, Jumat, 10 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa Kelompok Tani Mandiri Makmur mengelola total lahan seluas 108 hektare, namun baru sekitar 35 hektare yang telah diolah melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
“Kurang lebih setiap satu hektare lahan kami buat embung sebagai cadangan air. Ini salah satu cara untuk mengurangi dampak kekeringan,” jelasnya menjelaskan strategi pembangunan embung di setiap petak lahan pertanian.
Selain pembangunan embung, petani juga mengharapkan dukungan dari pemerintah dalam penyediaan sumber air dalam berupa sumur bor.
“Idealnya setiap 10 hektare lahan membutuhkan satu sumber air dalam. Jadi untuk 35 hektare, kami butuh sekitar tiga hingga empat sumur agar kebutuhan air bisa terpenuhi secara optimal,” tambahnya.
Ia menuturkan bahwa usulan bantuan sumur bor telah diajukan sejak tahun lalu dan pihaknya berharap realisasi bantuan tersebut dapat terealisasi pada tahun ini, biasanya bantuan datang sekitar bulan Juni atau Juli.
Dalam menghadapi kemarau panjang, para petani juga mulai mempertimbangkan diversifikasi tanaman dengan menanam komoditas hortikultura yang relatif tahan kekeringan seperti kacang panjang dan jagung.
“Tanaman hortikultura tidak terlalu membutuhkan banyak air. Apalagi sekarang sudah ada pabrik jagung di daerah ini, sehingga hasil panennya juga memiliki pasar,” ujar Sutiawan.
Ia juga menambahkan bahwa masa tanam padi di wilayah ini berkisar antara tiga hingga empat bulan, sedangkan El Niño diperkirakan berlangsung selama kurang lebih empat bulan. Dengan demikian, para petani optimis panen padi dapat selesai sebelum dampak kemarau panjang mulai dirasakan secara signifikan.
“Kami berharap panen bisa dilakukan tepat waktu agar dampak kekeringan tidak terlalu berat,” pungkasnya.
Upaya optimis ini menggambarkan kesiapsiagaan petani Kotawaringin Timur dalam menghadapi ancaman perubahan iklim dan menegaskan pentingnya dukungan sinergis antara masyarakat dan pemerintah untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian daerah. (DEVIANA/H)









