JAKARTA –

BORNEONEWS, Beijing – Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Tiongkok (PERMIT) Beijing menggelar bursa kerja internasional secara luring dan daring pada 11–12 April 2026, yang berhasil menarik sekitar 1.300 peserta dari berbagai negara.

Ketua PERMIT Beijing, Victor Hugo Yapadli, menyebut kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang terus berkembang dan semakin diminati oleh kalangan mahasiswa maupun industri.

“Total ada sekitar 1.300 pendaftar, dan 600 di antaranya merupakan mahasiswa Indonesia,” ujarnya, Sabtu, 12 April 2026.

Kegiatan ini menghadirkan 36 perusahaan yang membuka ratusan peluang kerja. Bursa kerja luring digelar di Beijing University of Chemical Technology, kampus Chaoyang.

Salah satu peserta, Anna Pinkiewicz (25), mahasiswa pascasarjana Jurnalisme dari Renmin University of China, mengaku lebih memilih mengikuti pameran kerja secara langsung dibandingkan daring.

“Lewat pameran kerja, kita bisa langsung berinteraksi dengan tim rekrutmen dan memberi kesan pertama yang lebih baik,” ujarnya.

Ia menilai suasana bursa kerja tersebut lebih terbuka bagi pencari kerja asing dibandingkan kegiatan serupa lainnya di China.

Pendapat serupa disampaikan mahasiswa Indonesia, Marvell Millensza (23), yang menempuh studi S2 teknik mesin di Beijing Institute of Technology.

Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan perusahaan dan memahami kebutuhan dunia kerja.

“Bisa melihat kondisi lapangan kerja dan menyesuaikan kemampuan kita dengan kebutuhan industri,” katanya.

Selain itu, diskusi langsung dengan perekrut juga membantu dalam menentukan pilihan antara melanjutkan studi atau langsung bekerja.

Sejumlah perusahaan yang berpartisipasi juga menilai lulusan asing, khususnya yang pernah menempuh pendidikan di China, memiliki nilai tambah karena memahami budaya dan kebutuhan pasar internasional.

Perusahaan teknologi konstruksi asal China, Glodon, misalnya, mencari kandidat dengan kriteria tertentu seperti latar belakang pendidikan, kemampuan bahasa, serta kepribadian.

Sementara itu, perusahaan ritel daring JD.com menekankan pentingnya penguasaan bahasa sesuai negara penempatan, termasuk bahasa Mandarin untuk bekerja di China.

Mahasiswa asal Semarang, Jeremy Nanda (23), menilai kemampuan bahasa Mandarin menjadi faktor penting bagi mereka yang ingin berkarier di perusahaan China.

“Belajar Mandarin menjadi bekal penting jika ingin bekerja di China atau perusahaan yang berhubungan dengan China,” ujarnya.

Wakil Kepala Perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing, Parulian Silalahi, menilai kegiatan ini memperkuat sinergi antara mahasiswa, universitas, dan dunia industri.

Menurutnya, sektor seperti energi hijau, manufaktur, dan perdagangan internasional di China membuka peluang besar bagi talenta muda internasional.

Kegiatan bursa kerja ini diharapkan terus menjadi jembatan bagi mahasiswa dalam mengakses peluang karier global, sekaligus memperkuat kolaborasi lintas negara.

ANTARA