JAKARTA –

BORNEONEWS, Beijing – Provinsi Hainan di China mulai menggenjot ambisi menjadi pusat perdagangan internasional melalui kebijakan Free Trade Port (FTP) yang resmi diterapkan sejak akhir 2025.

Kawasan beriklim tropis yang terdiri dari Pulau Hainan dan sejumlah pulau kecil di Laut China Selatan ini didorong menjadi hub ekonomi global yang mampu bersaing dengan Hong Kong dan Singapura.

Skema FTP memungkinkan sistem kepabeanan yang lebih fleksibel dibanding wilayah China daratan. Barang dari luar negeri lebih mudah masuk ke Hainan, sementara distribusi ke daratan tetap diawasi ketat.

Kebijakan ini berlandaskan tiga prinsip utama, yakni kemudahan akses barang dari luar negeri, pengawasan distribusi ke wilayah China daratan, serta pergerakan bebas barang di dalam pulau.

Sejumlah insentif juga diberikan, termasuk pembebasan bea masuk, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) impor, serta Pajak Penjualan atas Barang Mewah untuk banyak jenis barang.

Dari hampir 9.000 jenis barang, sekitar 74 persen di antaranya kini menikmati tarif impor nol persen.

Selain itu, perusahaan yang beroperasi di Hainan juga mendapat insentif pajak, seperti tarif pajak penghasilan badan sekitar 15 persen, lebih rendah dari tarif nasional sebesar 25 persen.

Kebijakan ini mulai dimanfaatkan pelaku industri, salah satunya perusahaan pengolahan minyak dan biji-bijian Hainan Ausca International Oils and Grains.

Perusahaan tersebut memanfaatkan bahan baku impor dari berbagai negara untuk diolah di Hainan sebelum dipasarkan ke China daratan maupun diekspor.

Sejak beroperasi, volume produksi perusahaan itu meningkat signifikan, dari 190.000 ton pada 2021 menjadi 1,58 juta ton pada 2025.

Selain sektor industri, Hainan juga mengembangkan sektor jasa, khususnya pariwisata medis melalui Zona Percontohan Internasional Boao Lecheng.

Kawasan ini memungkinkan penggunaan ratusan obat dan alat kesehatan luar negeri yang belum tersedia di China daratan, serta menarik ratusan ribu wisatawan medis setiap tahun.

Di sektor pariwisata, kebijakan bebas visa bagi puluhan negara turut mendongkrak kunjungan wisatawan asing hingga 1,5 juta orang pada 2025.

Meski demikian, pengembangan Hainan sebagai pusat ekonomi global masih menghadapi tantangan, mulai dari keterbatasan infrastruktur hingga skala perdagangan yang belum sebesar kota-kota besar di China.

Namun, dengan berbagai insentif dan strategi jangka panjang, Hainan diyakini memiliki potensi besar untuk menjadi pemain baru dalam peta perdagangan internasional dalam beberapa dekade mendatang.

ANTARA