PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Menghadapi cuaca ekstrem dengan intensitas curah hujan yang terus meningkat belakangan ini, upaya pencegahan dini menjadi hal yang sangat penting khususnya bagi masyarakat Palangka Raya.

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palangka Raya, Berlianto, mengajak masyarakat untuk berperan aktif menjaga kebersihan saluran air di lingkungan masing-masing.

Ajakan ini disampaikan mengingat tingginya potensi terjadinya genangan air maupun banjir lokal jika sistem drainase tidak berfungsi dengan maksimal.

Saluran air yang tersumbat oleh sampah atau endapan lumpur tentu akan menghambat aliran air hujan, sehingga berisiko meluap dan mengganggu aktivitas warga di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.

Menurut Berlianto, menjaga saluran air agar tetap bersih dan lancar merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemerintah semata. Terutama saat musim hujan seperti saat ini, kondisi saluran air yang bersih dan bebas sampah menjadi kunci utama agar air dapat mengalir dengan baik menuju badan air penerima.

"Saya mengimbau warga untuk tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke selokan atau parit yang ada di sekitar rumah," katanya, Minggu, 12 April 2026.

Kebiasaan kecil membuang sampah di sembarang tempat ternyata berdampak besar saat curah hujan tinggi, di mana sampah tersebut dapat menumpuk dan menyumbat aliran air secara tiba-tiba.

Selain itu, warga juga diharapkan melakukan pemantauan dan pembersihan rutin pada saluran air di depan rumah masing-masing.

Langkah sederhana seperti mengeruk endapan lumpur atau memungut sampah yang tersangkut di saluran drainase dapat mencegah terjadinya penyumbatan yang berpotensi menimbulkan genangan air.

“Kita harus bersama-sama menjaga kebersihan saluran air agar tetap berfungsi optimal, terutama di cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi,” ujar Berlianto.

Dengan gotong royong dan kesadaran tinggi dari masyarakat, diharapkan potensi genangan air dapat diminimalkan, sehingga lingkungan tetap aman, nyaman, dan terhindar dari risiko bencana hidrometeorologi. (PATHUR/J)