BORNEONEWS, Sampit - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Kalimantan Tengah mengoptimalkan pembangunan infrastruktur air sektor pertanian guna mengantisipasi dampak kekeringan saat musim kemarau.
"Pendekatan ini kami harap mampu mengantisipasi risiko perubahan iklim seperti kekeringan," kata Kepala Bidang Tanaman Pangan DPKP Kotim, Yulita di Sampit, Senin.
DPKP Kotim telah menyiapkan pompanisasi yang berfungsi mengalirkan air dari sumber terdekat seperti sungai. Sistem ini memiliki jarak hisap sekitar 7–8 meter dengan kapasitas pompa yang disesuaikan dengan luas lahan, rata-rata 1 liter per 0,5 hingga 1 hektare.
Sumur bor juga menjadi solusi alternatif dengan memanfaatkan air tanah dalam. Kedalaman pengeboran mencapai 20 hingga 100 meter tergantung kondisi tanah di masing-masing wilayah.
Kemudian ada embung di wilayah Kecamatan Mentaya Hilir, sebagai tempat penampungan air untuk cadangan selama musim kemarau.
Lokasi yang dipilih berupa cekungan dan tekan dengan lahan pertanian. Embung ini dirancang mampu memenuhi kebutuhan air selama satu hingga dua bulan.
“Semua metode ini sudah kami sosialisasikan kepada petani, baik untuk tanaman padi maupun palawija, agar mereka siap menghadapi kondisi kekeringan,” ujarnya.
Mitigasi dilakukan seiring dengan rilis data dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengenai musim kemarau yang diprediksi dimulai pada Juni hingga akhir September.
Dari data tersebut, disampaikan pula tingkat kekeringan pada musim kemarau tahun ini cukup tinggi karena adanya pengaruh El Nino moderat. Kondisi ini dikhawatirkan juga berdampak pada pertanian di Kotawaringin Timur.
“Ada dua wilayah pangan rawan kekeringan di Kotim, yakni Kecamatan Teluk Sampit dengan luas lahan sawah 8.565 hektare dan potensi produksi 36.615 ton gabah kering panen (GKP), serta Kecamatan Mentaya Hilir Selatan seluas 765 hektare dengan potensi 2.827 ton GKP,” katanya.
Ia melanjutkan, selain dua wilayah tersebut, kawasan lain seperti Pulau Hanaut dan sejumlah kecamatan lain juga memiliki potensi terdampak kekeringan, meski dalam skala yang berbeda.
ANTARA









