BORNEONEWS, Sampit - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mendorong perusahaan besar swasta (PBS) perkebunan kelapa sawit mengoptimalkan peternakan sapi dengan Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (Siska).
"Potensinya sangat besar. Kalau perusahaan mau mendukung ini, saya sangat yakin kita bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan daging dan harganya bisa lebih murah dari sekarang," kata Kepala DPKP Kotim Yephi Hartady di Sampit, Kalteng, Senin.
Berkaitan ini pihaknya juga telah mengundang dan menggelar sosialisasi kepada perusahaan perkebunan kelapa sawit untuk berkoordinasi terkait optimalisasi pengembangan sapi melalui Siska.
Saat ini harga daging sapi di Sampit Rp140.000 per kilogram, bahkan saat Lebaran Idul Fitri lalu sempat mencapai Rp170.000 per kilogram.
Tingginya harga daging sapi disebabkan sebagian kebutuhan sapi di daerah ini masih dipasok dari luar daerah seperti Kalimantan Selatan, Jawa, dan lainnya.
Kondisi inilah yang menjadi perhatian Yephi sejak dilantik menjadi Kepala DPKP pada Februari 2026. Untuk itu, dia mencoba mengajak perusahaan besar perkebunan kelapa sawit untuk mengoptimalkan program Siska.
Program ini diakui sudah ada cukup lama, bahkan saat ini sudah ada sejumlah perusahaan sawit yang menjalankan integritas sapi-sawit.
Namun, menurutnya, program ini perlu dioptimalkan agar Kotawaringin Timur bisa mandiri, bahkan swasembada daging sapi.
Potensinya sangat besar. Yephi menyebut, saat ini ada sekitar 400.000 hektare kebun sawit di Kotawaringin Timur yang dikelola 56 perusahaan, terdiri dari 40 perusahaan yang konsesinya di wilayah Kotawaringin Timur dan 16 perusahaan yang konsesinya lintas kabupaten.
Dengan tutupan kebun sawit sekitar 25 persen dari luas wilayah Kotawaringin Timur, maka kabupaten ini mempunyai potensi sangat besar untuk mengembangkan peternakan sapi dengan Siska.
Hal ini menjadi modal besar karena sudah tersedia pakan alami di areal perkebunan kelapa sawit. Polanya diserahkan kepada perusahaan masing-masing untuk menerapkan sistem ekstensifikasi, intensifikasi atau semi intensifikasi.
"Target saya tidak muluk-muluk. Dari 56 perusahaan ini, kalau kita bisa mengondisikan sekitar 20 PBS saja untuk mengaktifkan kemitraan dengan menjalankan program Siska di tahun pertama, itu sudah luar biasa," timpal Yephi.
ANTARA









