SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur, Multazam K. Anwar, mengingatkan kemungkinan kenaikan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) apabila jumlah hotspot dan kejadian kebakaran terus meningkat ke depannya. 

“Apabila di kemudian hari kejadian kebakaran dan hotspot meningkat, maka status siaga darurat karhutla akan dinaikkan menjadi status tanggap darurat,” tegas Multazam, Senin, 13 April 2026. 

Sejak lima hari lalu Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur telah menetapkan status siaga darurat karhutla yang berlangsung selama 185 hari, sejak 8 April hingga 10 Oktober 2026. Penetapan ini merupakan respons terhadap meningkatnya potensi karhutla dan kekeringan tahun ini. 

Data BPBD menunjukkan selama tahun 2026, luas lahan yang terbakar mencapai 101,393 hektare yang tersebar di tiga wilayah utama Kabupaten Kotim, yaitu wilayah utara seluas 1,450 hektare, wilayah tengah 47,228 hektare, dan wilayah selatan 52,715 hektare. Selain itu, keberadaan titik hotspot selama 2026 telah terdeteksi sebanyak 151 titik.

“Ini angka yang cukup mengkhawatirkan dan menunjukkan bahwa potensi karhutla masih sangat tinggi,” imbuhnya.

Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa meskipun telah ditetapkan status siaga darurat, upaya mitigasi dan pengendalian karhutla harus terus diperkuat agar tidak meluas dan menyebabkan kerusakan lingkungan serta dampak kesehatan serius bagi masyarakat.

“Penetapan status siaga darurat saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan langkah-langkah konkret di lapangan, termasuk pengawasan ketat dan respons cepat. Kita harus mencegah eskalasi yang berujung pada bencana yang lebih besar,” pungkasnya.

Situasi tersebut menegaskan perlunya sinergi antara BPBD, aparat pemerintah, masyarakat, dan semua pemangku kepentingan untuk serius menanggulangi karhutla demi menjaga keselamatan lingkungan dan kesehatan warga Kotawaringin Timur. (DEVIANA/j)