KASONGAN –

BORNEONEWS, Kasongan – Senin malam, 13 April 2026, Desa Mendawai, Kecamatan Mendawai, Kabupaten Katingan sedang diselimuti ketenangan yang biasa. Namun, bagi Mbah Surip, perempuan berusia 80 tahun yang tinggal di Jalan Dahali RT2 RW2, ketenangan itu nyaris berubah menjadi tragedi yang merenggut nyawanya.

Di usianya yang senja, Mbah Surip menjalani hari-hari dalam kesunyian. Sejak suaminya berpulang setahun lalu, ia tinggal sebatang kara. Tanpa anak maupun keturunan, rumah kayu di depan SMP Negeri 1 Mendawai itulah satu-satunya saksi bisu sisa perjalanannya.

Sekitar pukul 19.30 WIB, saat Mbah Surip sedang terlelap, sebuah suara aneh memecah tidurnya. 
Bukan suara ketukan pintu, melainkan bunyi gemuruh dan suara "kretek-kretek" yang tajam dari arah belakang rumah.

"Mbah Surip terbangun karena mendengar suara itu. Begitu dicek, ternyata api sudah mulai melahap bagian dapurnya," ujar Darniansyah, salah seorang warga Mendawai, menceritakan detik-detik mencekam tersebut, Selasa, 14 April 2026.

Dalam kepanikan dan sisa-sisa tenaga di usia senjanya, Mbah Surip bergegas ke luar rumah. Ia berlari menyelamatkan diri sembari berteriak meminta pertolongan. Nyawanya tertolong, namun harta bendanya berada di ujung tanduk.

Warga desa bergerak cepat. Tim Serbu Api Desa Mendawai bersama warga bahu-membahu membawa peralatan pemadam, termasuk bantuan alat pemadam pribadi milik warga bernama Sahwani. 

Namun, takdir berkata lain. Konstruksi rumah yang berbahan kayu membuat api dengan sangat cepat menjalar ke seluruh bagian bangunan.

"Karena api sudah terlalu besar, rumah Mbah Surip tidak bisa diselamatkan," lanjut Darniansyah dengan nada prihatin.

Petugas dan warga akhirnya memilih fokus memblokade kobaran api agar tidak merembet ke rumah di sekitarnya. Dalam waktu singkat, rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung Mbah Surip ludes, menyisakan arang dan abu.

Kini, garis polisi telah terpasang di lokasi kejadian. Kapolsek Mendawai, Ipda Sudirman, mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah melakukan penyelidikan mendalam untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran tersebut.

Meski raganya selamat, Mbah Surip kini benar-benar kehilangan tempat berteduh. Di tengah duka ini, secercah harapan muncul dari kepedulian warga. Darniansyah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak membiarkan Mbah Surip berjuang sendirian.

"Harapan kita selaku warga Mendawai, mari kita urunan membantu Mbah Surip untuk membangun kembali rumahnya yang terbakar," pungkasnya.

Bagi Mbah Surip, musibah ini adalah ujian berat di masa tuanya. Namun, di balik puing-puing yang menghitam, solidaritas warga Desa Mendawai diharapkan mampu menjadi pondasi baru bagi tempat tinggalnya kelak. (ABDUL GOFUR/H)