BORNEONEWS, Sampit – Petani di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berharap pemerintah daerah setempat segera merealisasikan bantuan sumber air dalam untuk mengantisipasi kekeringan.
Salah satunya Ketua Kelompok Tani Mandiri Makmur Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang Sutiawan, menyuarakan kekhawatiran serius terkait ketersediaan air dalam menghadapi potensi kemarau panjang yang mengancam keberlangsungan pertanian di wilayahnya.
“Kami mohon kepada pemerintah untuk dibuatkan sumber air dalam. Saat ini keberadaan embung masih membantu, tapi kalau kemarau panjang dikhawatirkan embung akan kering,” kata Sutiawan secara tegas, Selasa, 14 April 2026.
Ia mengungkapkan saat ini kebutuhan air untuk lahan mereka masih mengandalkan embung yang mereka buat. Namun, mereka khawatir embung akan mengering jika kemarau berkepanjangan seperti yang diperkirakan.
Ia pun mendesak pemerintah memberikan bantuan berupa sumber air dalam, khususnya sumur bor yang nantinya bisa didistribusikan melalui jaringan pipanisasi, sebagai solusi jangka panjang mengatasi kekeringan.
Sutiawan menjelaskan bahwa bantuan sumur bor sangat diperlukan mengingat luas lahan cetak sawah rakyat kelompok tani Mandiri Makmur mencapai 1.108 hektar, meski dari itu baru sekitar 35 hektar lahan yang telah diolah saat ini. Dengan kondisi itu, idealnya setidaknya diperlukan tiga hingga empat titik sumber air dalam untuk mendukung kegiatan pertanian secara optimal.
“Idealnya setiap 10 hektar itu satu titik sumur bor, jadi untuk lahan kami yang saat ini seukuran 35 hektar, dibutuhkan sekitar tiga atau empat titik,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi sinyal positif dari pemerintah yang sudah menanggapi kebutuhan tersebut dengan mengacu pada instruksi Menteri Pertanian agar masalah ketersediaan air petani tidak menjadi kendala di tengah perubahan iklim yang semakin ekstrim.
“Pemerintah sudah memberikan sinyal untuk bantuan itu. Mungkin akan direalisasikan dalam waktu dua sampai tiga bulan ke depan,” ungkapnya penuh harap.
Pernyataan Sutiawan ini mengingatkan bahwa ketergantungan pada embung sebagai satu-satunya sumber air belum cukup memadai untuk menghadapi ancaman kekeringan yang berkepanjangan dan dapat mengakibatkan kegagalan panen jika tidak diantisipasi sejak awal.
Situasi itu memperlihatkan perlunya langkah lebih responsif dan terstruktur dari pemerintah daerah dan pusat dalam penyediaan infrastruktur sumber air bagi para petani, agar sektor pertanian tetap produktif dan ketahanan pangan terjaga di tengah tantangan perubahan iklim.
“Kami berharap pemerintah dapat segera mewujudkan bantuan ini setelah melihat kondisi dan luas lahan yang kami kelola,” tandas Sutiawan. (DEVIANA/H)









