BORNEONEWS, Pulang Pisau – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bereng, Kabupaten Pulang Pisau menggelar sosialisasi dan edukasi pengelolaan sampah dapur MBG, Selasa, 14 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Pulang Pisau yang diisi langsung oleh Kepala Dinas, Godfridson.
Kepala SPPG Bereng, Puput Damayanti, mengatakan kegiatan tersebut dilaksanakan untuk mengisi masa jeda operasional dapur MBG yang saat ini ditutup sementara akibat perbaikan instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
“Tujuannya untuk mengisi kekosongan dengan kegiatan yang positif dan membangun. Selain itu, ini juga menjadi kesempatan bagi kami untuk berbenah, salah satunya dalam pengelolaan sampah,” ujar Puput.
Ia menjelaskan, selama dapur belum beroperasi, pihaknya tetap mendorong relawan untuk mengikuti kegiatan yang bermanfaat guna menambah pengetahuan dan wawasan, meskipun tidak melakukan aktivitas memasak.
“Relawan tetap mendapatkan manfaat dengan adanya SPPG ini, meski kegiatannya tidak lagi memasak. Kami juga masih menunggu arahan dari pusat terkait waktu operasional kembali, meskipun perbaikan IPAL sudah dilakukan dan dinyatakan memenuhi standar,” jelasnya.
Puput menambahkan, penutupan sementara ini menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas infrastruktur dan pelayanan, baik kepada masyarakat maupun lingkungan sekitar.
Dalam kegiatan tersebut, juga disampaikan sejumlah inovasi pengelolaan limbah, di antaranya pemanfaatan sampah organik dan rencana penyediaan alat pembakar khusus untuk sampah plastik. Dengan inovasi tersebut, diharapkan seluruh sampah yang dihasilkan dari dapur SPPG dapat dikelola secara mandiri tanpa harus dibuang keluar.
“Ke depan, kami ingin sampah yang dihasilkan bisa dimanfaatkan di sini semuanya, sehingga tidak lagi keluar dari lingkungan SPPG,” tambahnya.
Sebelumnya, pengelolaan sampah dapur masih mengandalkan jasa pengangkut sampah dengan sistem pembayaran bulanan, tanpa pemilahan yang optimal antara sampah organik dan anorganik.
Puput mengungkapkan, dalam kondisi normal, dapur MBG Bereng dapat menghasilkan sampah hingga sekitar 25 kilogram per hari, tergantung jenis masakan yang diolah.
Ia berharap, setelah dapur kembali beroperasi, inovasi pengelolaan limbah yang telah disosialisasikan dapat langsung diterapkan, bahkan berpotensi menjadi percontohan bagi SPPG lainnya.
“Harapannya, apa yang dilakukan di SPPG Bereng ini bisa menjadi contoh, tidak hanya di daerah, tetapi juga hingga tingkat nasional,” tandasnya. (RETHA/j)









