JAKARTA –

BORNEONEWS, Istanbul – Pemerintah Lebanon mulai membuka jalur diplomasi baru dengan Israel melalui pembicaraan langsung yang difokuskan pada upaya mencapai gencatan senjata di kawasan konflik.

Menteri Luar Negeri Lebanon, Youssef Raggi, menyebut langkah tersebut sebagai pendekatan baru yang terpisah dari dinamika konflik yang lebih luas di kawasan, termasuk ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

“Hanya negara Lebanon yang memiliki kewenangan untuk bernegosiasi atas nama Lebanon,” tegasnya melalui pernyataan resmi, Selasa, 14 April 2026.

Ia menegaskan bahwa prinsip kedaulatan nasional menjadi dasar utama dalam proses diplomasi tersebut, sekaligus menekankan komitmen Lebanon untuk mendorong tercapainya gencatan senjata melalui jalur negosiasi langsung.

Pertemuan ini menjadi momen penting, mengingat Lebanon dan Israel kembali melakukan pembicaraan langsung setelah lebih dari tiga dekade, dengan mediasi dari Amerika Serikat.

Dalam perundingan yang berlangsung di Washington, Lebanon diwakili oleh Duta Besar Nada Hamadeh, sementara Israel diwakili oleh Yechiel Leiter.

Sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat turut hadir dalam pertemuan tersebut, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Duta Besar AS untuk Lebanon Michel Issa, penasihat Michael Needham, serta perwakilan tetap AS untuk PBB Mike Waltz.

Di sisi lain, Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyampaikan harapan agar proses negosiasi ini dapat menjadi titik awal berakhirnya konflik yang telah lama membebani masyarakat, khususnya di wilayah Lebanon selatan.

Ia menekankan bahwa stabilitas kawasan tidak akan tercapai selama pasukan Israel masih berada di wilayah Lebanon. Menurutnya, solusi jangka panjang adalah penempatan penuh tentara Lebanon di sepanjang perbatasan yang diakui secara internasional.

“Satu-satunya solusi adalah memastikan keamanan wilayah berada sepenuhnya di tangan negara Lebanon demi melindungi masyarakat,” ujarnya.

Pembicaraan ini berlangsung di tengah situasi keamanan yang masih memanas, terutama akibat serangan Israel di wilayah selatan Lebanon yang menargetkan kelompok Hizbullah.

Dengan dimulainya dialog langsung ini, diharapkan terbuka peluang baru untuk meredakan konflik dan menciptakan stabilitas di kawasan Timur Tengah.

ANTARA