BORNEONEWS, Manila – Pemerintah Filipina mengajukan permohonan kepada Amerika Serikat untuk menambah pembelian minyak dari Rusia guna mengatasi krisis energi yang tengah dihadapi negara tersebut.
Menteri Energi Filipina, Sharon Garin, mengungkapkan pihaknya telah berkomunikasi dengan Departemen Luar Negeri AS untuk memperoleh perpanjangan izin atau pengecualian terhadap embargo minyak Rusia.
“Kami telah berkomunikasi dengan Departemen Luar Negeri AS untuk mendapatkan kesempatan tambahan atau perpanjangan pencabutan embargo,” ujarnya, Selasa, 14 April 2026.
Ia menyebut Filipina optimistis permintaan tersebut dapat dikabulkan, mengingat langkah ini menjadi bagian penting dalam menangani kondisi darurat energi di negara Asia Tenggara tersebut.
Sebelumnya, Amerika Serikat memberikan pengecualian selama 30 hari bagi sejumlah negara untuk tetap membeli minyak Rusia, meskipun komoditas tersebut dikenai sanksi akibat konflik di Ukraina.
Filipina bahkan menjadi salah satu negara pertama yang menetapkan status darurat energi sebagai respons atas gangguan pasokan global, terutama imbas konflik geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Data menunjukkan, pada Maret lalu Filipina mengimpor sekitar 2,48 juta barel minyak mentah dari Rusia. Ketergantungan terhadap impor energi juga cukup tinggi, di mana sekitar 90 persen kebutuhan minyak negara tersebut berasal dari kawasan Timur Tengah.
Sepanjang 2024, Filipina tercatat mengeluarkan sekitar 16 miliar dolar AS untuk memenuhi kebutuhan minyak nasionalnya.
Dengan meningkatnya tekanan terhadap pasokan energi global, langkah Filipina untuk memperluas sumber impor, termasuk dari Rusia, dinilai sebagai strategi untuk menjaga stabilitas energi domestik sekaligus menekan dampak krisis terhadap perekonomian nasional.
ANTARA









