PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kepergian Prof. Dr. Birute Marija Filomena Galdikas meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi masyarakat Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), tetapi juga dunia internasional. Sosok ilmuwan dan pejuang konservasi ini dikenal luas atas dedikasinya dalam melindungi orangutan dan hutan tropis Kalimantan.

Prof. Birute Marija Filomena Galdikas lahir  tahun 1946 dari keluarga keturunan Lithuania, kemudian tumbuh dan besar di Kanada sebelum melanjutkan pendidikan tinggi di Amerika Serikat. Ia menempuh pendidikan di University of California, Los Angeles (UCLA) hingga meraih gelar doktor di bidang bioantropologi.

Perjalanan hidupnya di Kalimantan dimulai pada tahun 1971, saat ia datang untuk melakukan penelitian orangutan liar di kawasan yang kini dikenal sebagai Taman Nasional Tanjung Puting. Penelitian tersebut menjadi tonggak penting dalam dunia ilmu pengetahuan karena membuka pemahaman baru tentang kehidupan orangutan di habitat alaminya.

Dalam kehidupan pribadinya, Birute Marija Filomena Galdikas memiliki ikatan erat dengan masyarakat lokal. Ia menikah dengan tokoh masyarakat Desa Pasir Panjang, almarhum Bohap Bin Jalan, dan dikaruniai dua orang anak. Pada tahun 1994, ia resmi menjadi Warga Negara Indonesia dan menetap di Desa Pasir Panjang.

Dari pernikahan tersebut, ia memiliki dua orang anak yakni Frederick Pahlerang Bohap Galdikas dan Filomena Jane Bohap Galdikas yang diharapkan dapat melanjutkan semangat perjuangan dalam menjaga kelestarian alam dan lingkungan.

Selama lebih dari 5 dekade,  Birute Marija Filomena Galdikas mengabdikan hidupnya untuk penelitian dan pelestarian orangutan serta hutan Kalimantan. Ia juga mendirikan berbagai lembaga konservasi, termasuk Orangutan Foundation International (OFI), yang hingga kini terus berperan dalam perlindungan orangutan dan habitatnya.

Dedikasi dan perjuangannya diakui secara luas oleh dunia internasional melalui berbagai penghargaan bergengsi, seperti Kalpataru dari Pemerintah Indonesia, United Nations Global 500 Environment Award, serta sejumlah penghargaan internasional lainnya.

Selain sebagai ilmuwan, ia juga dikenal sebagai sosok yang dekat dengan masyarakat. Banyak warga lokal dilibatkan dalam kegiatan penelitian dan konservasi, sehingga memberikan dampak positif bagi pendidikan, ekonomi, dan pengembangan ekowisata di wilayah Tanjung Puting dan Desa Pasir Panjang.

Kepergian . Birute Marija Filomena Galdikas menjadi kehilangan besar bagi dunia konservasi. Namun, semangat dan dedikasinya dalam menjaga hutan serta satwa liar akan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang. (WAHYU KRIDA/J)