SAMPIT –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Suasana haru menyelimuti prosesi penghormatan terakhir Prof. Dr. Birute Marija Filomena Galdikas. Di tengah duka, keluarga mengenang sisi hangat almarhumah, termasuk kecintaannya terhadap budaya Dayak, khususnya musik karungut.

Anak almarhumah, Frederick Pahlerang Bohap Galdikas,  saat prosesi pemakaman ibunya, Rabu, 15 April 2026, mengungkapkan bahwa ibunya memiliki kedekatan yang kuat dengan budaya Kalimantan selama hidupnya. 

“Ibu sangat mencintai budaya Dayak, terutama musiknya. Kalau kami melakukan perjalanan jauh, hampir selalu yang diputar di mobil itu adalah karungut, berulang-ulang,” jelas Frederick Pahlerang Bohap Galdikas.

Frederick Pahlerang Bohap Galdikas menyampaikan, bagi Prof. Birute, Kalimantan bukan sekadar tempat penelitian, tetapi rumah yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama puluhan tahun. 

“Beliau mencintai Indonesia, khususnya Pangkalan Bun, Pasir Panjang, Tanjung Puting, dan Camp Leakey. Semua itu bukan hanya tempat bekerja, tapi rumahnya,” jelas  Frederick Pahlerang Bohap Galdikas.

Frederick Pahlerang Bohap Galdikas juga mengenang dedikasi sang ibu yang telah mengabdikan lebih dari 55 tahun hidupnya untuk orangutan dan hutan Kalimantan. 

“Ia adalah ilmuwan perintis, pelindung, dan ibu bagi orangutan, serta suara bagi hutan Borneo. Semua dilakukan tanpa mencari ketenaran atau kekayaan,” jelas  Frederick Pahlerang Bohap Galdikas.

Frederick Pahlerang Bohap Galdikas mengajak semua pihak untuk tidak larut dalam kesedihan, melainkan merayakan kehidupan dan warisan yang ditinggalkan almarhumah. 

“Pesan beliau kepada kami adalah jangan bersedih. Mari kita rayakan hidup dan warisannya, serta melanjutkan kepedulian terhadap dunia dan sesama,” pungkasnya. (WAHYU KRIDA/)