BORNEONEWS, Palangka Raya - Prof. Dr. Ir. Evi Feronika Elbaar, M.Si menegaskan dunia tengah berada dalam fase ketidakpastian sistemik yang kompleks. Hal itu disampaikannya dalam orasi ilmiah pada Rapat Senat Terbuka pengukuhan Guru Besar Universitas Palangka Raya pada Rabu, 15 April 2026.
Menurutnya, krisis pangan saat ini tidak lagi berdiri sendiri, melainkan berkelindan dengan krisis ekologis dan krisis energi. Kondisi tersebut membentuk situasi yang ia sebut sebagai “perfect storm” atau badai sempurna dalam sistem pangan global.
"Badai tersebut dipicu oleh tiga tekanan utama, yakni gangguan rantai pasok, lonjakan harga energi, serta penurunan kapasitas produksi pertanian. Ketiganya saling terkait dan memperparah kerentanan sistem pangan di berbagai negara, termasuk wilayah tropis," kata Prof Evi dalam Orasi Ilmiahnya di Aula Rahan, Universitas Palangka Raya.
Lebih lanjut, Evi menyoroti peran perubahan iklim sebagai faktor dominan yang mengganggu stabilitas produksi pangan. Ia mengutip proyeksi Food and Agriculture Organization (FAO) yang memperkirakan penurunan produksi pangan hingga 30 persen di kawasan tropis akibat perubahan iklim.
Di sisi lain, krisis energi global turut memperburuk situasi. Kenaikan harga minyak dan gas berdampak langsung pada meningkatnya biaya produksi pertanian, mulai dari pupuk, bahan bakar, hingga distribusi logistik, sehingga ketahanan pangan tidak dapat dilepaskan dari dinamika sektor energi.
"Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis pangan sejatinya merupakan krisis sistem yang melibatkan interaksi kompleks antara ekologi, energi, dan ekonomi," tegasnya.
Bahkan, lanjut Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah periode 1997 – 1999 ini, World Meteorological Organization memprediksi dunia berpotensi menghadapi krisis pangan yang jauh lebih serius pada 2050 jika tidak ada intervensi yang signifikan. (TESTI PRISCILLA/j)









