BORNEONEWS, Sampit – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis solar mulai dirasakan di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kondisi ini berdampak langsung terhadap para sopir angkutan, terutama truk, yang menggantungkan pekerjaan mereka pada ketersediaan bahan bakar tersebut.
"Saya dan teman teman sudah beberapa hari ini tidak bisa bekerja karena tidak dapat solar. Mau beli (solar) eceran, banyak yang kosong juga. Antre di pom bensin juga belum dapat. di pengecer kosong sedangkan di SPBU kalah sama pelangsir dan biaya preman tinggi," Ahmad seorang sopir dump truck di Sampit, Kamis, 16 April 2026.
Di sejumlah SPBU di Sampit, antrean terlihat dalam beberapa hari terakhir. Namun bagi sebagian sopir, menunggu pun belum tentu membuahkan hasil. Solar kerap habis sebelum mereka mendapatkan giliran.
Ahmad mengatakan, situasi ini membuat para sopir berada dalam posisi sulit. Di satu sisi mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan, namun di sisi lain bahan bakar yang menjadi penopang utama justru sulit didapatkan.
Kondisi serupa juga dialami Yadi, sopir angkutan lainnya. Ia mengaku kesulitan solar membuat dirinya tidak dapat beroperasi seperti biasa, sehingga berdampak langsung pada ekonomi keluarganya.
"Kalau tidak mendapat bahan bakar saya tidak bisa kerja. Otomatis keperluan keluarga pastinya terganggu," katanya.
Sebagai tulang punggung keluarga, Yadi mengaku khawatir jika kondisi ini terus berlanjut. Ia berharap ada solusi cepat agar para sopir bisa kembali bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kelangkaan solar ini tidak hanya berdampak pada sopir truk, tetapi juga berpotensi mengganggu distribusi barang di wilayah Kotim. Jika angkutan terhenti, rantai pasok berbagai kebutuhan masyarakat pun bisa ikut terganggu.
Ia berharap pemerintah daerah, pihak Pertamina, serta aparat penegak hukum dapat segera turun tangan mengatasi persoalan ini, termasuk menindak praktik penimbunan atau penyalahgunaan distribusi BBM subsidi.
Ia juga meminta adanya pengawasan lebih ketat di lapangan agar solar subsidi benar-benar sampai kepada pihak yang berhak, bukan justru dimanfaatkan oleh oknum tertentu. (DEWI PATMALASARI/H)









