BORNEONEWS, Palangka Raya - Keberhasilan penyaluran insentif keberlanjutan kepada ratusan pekebun sawit di Kabupaten Lamandau tidak terlepas dari proses panjang yang telah dibangun sejak beberapa tahun terakhir. Kolaborasi antara BUMDes Berkah Mulya Jaya, pemerintah desa, dan pendampingan perusahaan menjadi fondasi utama dalam penguatan kelembagaan pekebun swadaya.
Direktur BUMDes Berkah Mulya Jaya, Choirul Fuadi, menyebut capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif yang dimulai sejak 2021. Program ini secara bertahap mendorong pekebun untuk beralih ke praktik budidaya kelapa sawit berkelanjutan sesuai standar yang ditetapkan.
Ia menjelaskan, pada tahap awal program hanya melibatkan 126 pekebun dengan luas lahan sekitar 537 hektare. Namun dalam perjalanannya, jumlah tersebut terus meningkat signifikan seiring dengan kepercayaan dan partisipasi masyarakat.
“Saat ini telah berkembang menjadi 506 pekebun dengan total luasan sekitar 1.997 hektare yang tersebar di beberapa desa di Kecamatan Sematu Jaya,” ujarnya dalam rilis kepada Borneonews pada Kamis, 16 April 2026.
Perluasan ini menunjukkan bahwa pendekatan kolaboratif mampu mempercepat adopsi praktik berkelanjutan di tingkat tapak.
"Pada periode penjualan ketiga melalui sistem perdagangan PRISMA, organisasi berhasil membukukan nilai penjualan kredit RSPO sebesar Rp1,74 miliar," tambah Choirul.
Capaian tersebut menjadi indikator meningkatnya kapasitas kelembagaan dan kualitas pengelolaan kebun oleh pekebun swadaya.
Menurutnya, dana yang diperoleh tidak hanya berdampak pada peningkatan ekonomi pekebun, tetapi juga dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan sosial serta upaya konservasi lingkungan di wilayah desa. Hal ini sekaligus memperkuat peran BUMDes sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi berbasis keberlanjutan di tingkat lokal. (TESTI PRISCILLA/j)









