BORNEONEWS, Sampit – Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Dadang Siswanto, menyoroti keberadaan grup Facebook menyimpang bernama Gay ABG Sampit yang belakangan ramai diperbincangkan masyarakat.
"Perilaku tersebut sebagaimana kita ketahui itu bertentangan baik dari sisi norma agama, norma sosial, bahkan dengan norma hukum positif jika itu berhubungan dengan masalah anak," kata Dadang, Kamis, 16 April 2026.
Grup tersebut diketahui memiliki sekitar 1.373 pengikut, tidak hanya berasal dari Sampit, tetapi juga dari sejumlah kecamatan hingga kabupaten sekitar.
Menanggapi hal ini, Dadang mengajak semua pihak untuk tidak menormalisasi perilaku yang dinilai bertentangan dengan norma yang berlaku, namun tetap mengedepankan pendekatan yang humanis dalam penanganannya.
Menurutnya, langkah penanganan perlu melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, tokoh agama, hingga lembaga adat, guna memberikan pemahaman yang tepat kepada masyarakat.
"Kita perlu pendekatan-pendekatan yang lebih humanis, baik melalui pemerintah daerah, pemuka agama, maupun lembaga adat," ujarnya.
Ia juga menyoroti aspek kesehatan masyarakat, khususnya terkait potensi penyebaran penyakit seperti HIV. Berdasarkan data yang diterimanya, jumlah kasus HIV di Sampit disebut sudah mencapai lebih dari 800 kasus.
"Memang data spesifik ada di dinas kesehatan, tapi yang kami dapat angkanya sudah lebih dari 800," ungkapnya.
Dadang menegaskan, pemerintah daerah perlu mengambil langkah konkret terhadap keberadaan grup tersebut, termasuk kemungkinan penindakan terhadap konten yang melanggar aturan.
"Kita harapkan ada tindakan nyata dan konkret. Jangan dibiarkan, perlu ada yang ditindak termasuk upaya takedown," tegasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan agar penanganan tidak dilakukan dengan cara mengucilkan individu, melainkan melalui edukasi dan pembinaan yang tepat agar tidak menimbulkan dampak sosial yang lebih luas.
"Kita semua harus bergandeng tangan. Jangan ketika melihat perilaku semacam demikian lalu kita acuh. Tapi kita ajak edukasi yang lebih humanis. Jangan juga mereka kita kucilkan dari lingkungan sosial yang bakal bisa lebih parah akhirnya. Tapi kita lakukan pendekatan-pendekatan," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/R)









