PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Palangka Raya sekaligus peneliti Institute for Economic Research and Training (INTEREST), Suherman menilai meningkatnya peredaran barang bernilai tinggi di tengah masyarakat dapat menjadi salah satu faktor pemicu naiknya angka kriminalitas jalanan apabila tidak diiringi pemerataan pendapatan.

Menurutnya, fenomena masyarakat yang semakin sering menampilkan simbol kemewahan seperti kendaraan baru, ponsel mahal, hingga gaya hidup konsumtif berpotensi menimbulkan kesenjangan sosial.

“Ketika masyarakat setiap hari melihat simbol kemewahan, tetapi tidak memiliki kemampuan ekonomi yang sama, maka muncul ketimpangan. Dalam kondisi tertentu, sebagian orang bisa terdorong mencari jalan pintas, termasuk melalui tindakan kriminal,” Suherman di Palangka Raya, Kamis, 16 April 2026.

Ia menjelaskan peningkatan aktivitas konsumsi kerap dianggap sebagai indikator ekonomi yang membaik, namun kondisi tersebut belum tentu mencerminkan kesejahteraan riil masyarakat.

Suherman menambahkan, kesenjangan antara gaya hidup konsumtif dan kemampuan ekonomi masyarakat menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong tindak kejahatan seperti penjambretan maupun perampokan.

“Kejahatan sering muncul karena adanya peluang. Tidak selalu diawali niat, tetapi ketika kesempatan terbuka, potensi tindakan kriminal bisa terjadi,” katanya. (HERMAWAN DP/R)