JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Menteri Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyatakan pembahasan terkait penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax Series, hampir selesai.

“Tinggal kita lihat kapan itu dilakukan penyesuaian. Feeling saya, atas dasar rapat-rapat kami dengan Pertamina maupun badan usaha swasta, sudah hampir selesai sih,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat, 17 April 2026.

Ia menjelaskan, penyesuaian harga tersebut mengacu pada regulasi pemerintah, yakni Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022 sebagai perubahan atas Kepmen Nomor 62 K/12/MEM/2020. Aturan itu merujuk pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2022 tentang perhitungan harga jual eceran BBM.

Menurut Bahlil, harga BBM nonsubsidi pada dasarnya mengikuti mekanisme pasar sesuai formula yang telah ditetapkan pemerintah.

“Sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM pada Tahun 2022, BBM nonsubsidi itu kan berdasarkan harga pasar,” katanya.

Sejak awal April 2026, Pertamina bersama pengelola SPBU swasta seperti Shell, Vivo, dan bp masih menahan harga BBM nonsubsidi meski harga minyak dunia melonjak akibat konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Saat ini, harga minyak mentah dunia jenis Brent dan WTI berada di kisaran 90 hingga 100 dolar AS per barel. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding rata-rata harga Brent pada Januari 2026 yang berada di level 64 dolar AS per barel.

Sebelumnya, pemerintah melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memastikan harga BBM subsidi maupun nonsubsidi belum dinaikkan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut Pertamina masih menanggung selisih harga jual BBM nonsubsidi selama penyesuaian belum dilakukan.

ANTARA