SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Menghadapi tantangan musim kemarau yang mengancam ketersediaan air untuk pertanian padi, Kelompok Tani Mandiri Makmur di Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, mengambil langkah strategi dengan mengalihfungsikan lahan cetak sawah rakyat (CSR) mereka menjadi lahan hortikultura.

Ketua Kelompok Tani Mandiri Makmur, Sutiawan, menjelaskan bahwa tanaman hortikultura seperti jagung dipilih karena kebutuhan airnya yang lebih sedikit dibanding padi, sehingga lebih cocok ditanam saat musim kemarau.

“Karena tanaman hortikultura seperti jagung tidak terlalu banyak memerlukan air, maka lahan sawah yang biasanya kita tanami padi akan dialihkan untuk menanam jagung selama musim kemarau,” kata Sutiawan, Sabtu, 18 April 2026.

Selain aspek ketahanan air, Sutiawan menyoroti kemudahan pemasaran jagung. Di Kabupaten Kotawaringin Timur saat ini keberadaan pabrik jagung yang dibangun Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menjadi peluang besar bagi para petani.

“Jadi nanti kalau jagung kami bisa langsung dimasukkan ke pabrik, kami tidak lagi bingung memasarkan hasil panen,” ujarnya optimis.

Pengalihan fungsi lahan tersebut juga merupakan respons adaptif terhadap perubahan iklim dan kondisi lingkungan yang mulai berfluktuasi, sehingga mengurangi risiko kegagalan panen dan kerugian ekonomi bagi petani lokal.

Inisiatif kelompok tani ini menjadi contoh nyata inovasi strategis dalam pertanian yang dapat diaplikasikan di wilayah lain untuk menghadapi musim kemarau panjang sekaligus mendorong produktivitas komoditas alternatif dengan peluang pasar menjanjikan.

Dengan dukungan pemerintah dan fasilitas yang tersedia, Kelompok Tani Mandiri Makmur optimis dapat terus berkontribusi dalam meningkatkan ketahanan pangan daerah sekaligus memperbaiki kesejahteraan petani. (DEVIANA/H)