JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dinilai dapat mendorong konsumen menengah ke atas beralih ke kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, menyebut tren tersebut berpotensi terjadi terutama pada pengguna BBM jenis Pertamax Turbo dan Pertamina Dex.

“Untuk kelompok menengah ke atas yang biasa mengkonsumsi Pertamax Turbo atau Pertamina Dex, ada kecenderungan memang beralih ke mobil listrik atau EV,” ujarnya, Minggu, 19 April 2026.

Meski demikian, ia menilai peralihan ke kendaraan listrik bagi masyarakat kelas menengah masih menghadapi sejumlah tantangan.

Menurutnya, gangguan rantai pasok global, termasuk dampak situasi di Selat Hormuz, turut memengaruhi biaya produksi komponen kendaraan listrik sehingga harga EV ikut mengalami penyesuaian.

“Tapi untuk kelompok menengah masih menimbang-nimbang, karena efek dari gangguan produksi dan rantai pasok berpengaruh terhadap biaya produksi EV,” jelasnya.

Selain itu, berkurangnya insentif pemerintah untuk kendaraan listrik pada 2026 juga menjadi faktor yang memengaruhi keputusan konsumen.

Bhima menilai, setiap kelompok masyarakat akan memiliki perilaku konsumsi yang berbeda terhadap kendaraan listrik, tergantung pada kemampuan ekonomi dan faktor pendukung lainnya.

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) menaikkan harga sejumlah BBM nonsubsidi mulai 18 April 2026, seperti Pertamax Turbo menjadi Rp19.400 per liter dari sebelumnya Rp13.100, Dexlite menjadi Rp23.600 dari Rp14.200, serta Pertamina Dex menjadi Rp23.900 dari Rp14.500 per liter.

Sementara itu, harga Pertamax (RON 92) masih dipertahankan di Rp12.300 per liter dan Pertamax Green Rp12.900 per liter. Harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar juga belum mengalami perubahan. (ANTARA)