JAKARTA –

BORNEONEWS, Jenewa – Perdana Menteri Pedro Sánchez menyerukan reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa agar lebih relevan dengan tantangan global abad ke-21.

Dalam pertemuan “Dalam Pembelaan Demokrasi” di Barcelona, Sabtu, 18 April 2026, Sánchez menilai sistem multilateral saat ini perlu diperbarui agar lebih efisien, transparan, inklusif, dan representatif.

Ia juga mendorong agar PBB ke depan dipimpin oleh seorang perempuan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kredibilitas dan keadilan dalam kepemimpinan global.

“Sudah saatnya beralih dari komitmen ke tindakan,” ujarnya.

Sánchez menyoroti semakin besarnya tekanan terhadap demokrasi, baik dari dalam maupun luar suatu negara, yang dinilai dapat melemahkan sistem pemerintahan.

“Ada bahaya bahwa demokrasi menjadi kosong dari dalam sementara diserang dari luar,” katanya.

Menurutnya, respons terhadap ancaman tersebut tidak cukup hanya bersifat defensif, tetapi harus diiringi langkah konkret untuk memperkuat demokrasi secara berkelanjutan.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya regulasi yang lebih jelas terhadap media sosial guna menekan penyebaran disinformasi.

Sánchez mengingatkan bahwa algoritma tidak boleh mendorong penyebaran kebencian, polarisasi, maupun konten kekerasan yang berpotensi merusak ruang publik.

Ia menilai teknologi dapat menjadi alat kemajuan, namun tanpa aturan yang tepat justru berisiko memperdalam perpecahan di masyarakat.

Seruan reformasi PBB ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem global dalam menghadapi dinamika geopolitik dan tantangan demokrasi di era modern. (ANTARA)