BORNEONEWS, Palangka Raya - Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, menggagas wacana memasukkan permainan catur ke dalam pembelajaran di sekolah. Ide tersebut ia sampaikan usai terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) periode 2026–2030 di Palangka Raya baru-baru ini.
Dalam pernyataannya, Agustiar menegaskan bahwa sebagai gubernur, dirinya dapat mulai menerapkan program tersebut di tingkat SLTA di Kalimantan Tengah. Namun untuk penerapan secara nasional, menurutnya diperlukan koordinasi lebih lanjut dengan kementerian terkait.
“Sebagai gubernur, saya bisa menerapkan ini di SLTA karena itu kewenangan provinsi. Tapi sebagai Ketua Umum PB Percasi, penerapannya secara nasional tetap harus melalui koordinasi dengan kementerian,” ucapnya beberapa waktu lalu.
Wacana ini memunculkan pertanyaan, bagaimana sebenarnya penerapan catur dalam sistem pendidikan di negara lain. Dihimpun dari berbagai sumber, sejumlah negara telah lebih dulu membuktikan bahwa catur dapat menjadi bagian efektif dalam proses pembelajaran.
Di Armenia, catur bahkan dijadikan mata pelajaran wajib di sekolah dasar sejak 2011. Siswa mempelajari catur secara terstruktur dengan kurikulum resmi, buku ajar, serta guru yang telah mendapatkan pelatihan khusus.
Sementara di Rusia, catur diterapkan secara luas sebagai bagian dari pendidikan karakter dan pengembangan logika. Meski tidak selalu wajib, program ini mendapat dukungan kuat dari pemerintah.
Berbeda lagi dengan Amerika Serikat, di mana catur lebih banyak dikembangkan melalui kegiatan ekstrakurikuler dan klub sekolah. Meski tidak formal, pendekatan ini tetap efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir siswa.
Melihat berbagai model tersebut, penerapan catur di sekolah umumnya terbagi dalam tiga bentuk, yakni sebagai mata pelajaran wajib, bagian dari kurikulum pendukung, atau kegiatan ekstrakurikuler. Setiap negara menyesuaikan dengan kebutuhan dan kesiapan sistem pendidikannya.
Jika diterapkan di Indonesia, khususnya di Kalimantan Tengah, pendekatan bertahap dinilai paling realistis. Catur bisa dimulai sebagai kegiatan ekstrakurikuler atau muatan lokal, sebelum dikembangkan lebih luas ke dalam kurikulum resmi.
Dengan mengacu pada pengalaman negara lain, gagasan yang diusung Agustiar Sabran dinilai memiliki peluang besar untuk berhasil. Selain memperkaya metode pembelajaran, catur juga diyakini mampu membentuk generasi yang lebih cerdas, strategis, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (SABRIANOOR/j)









