BORNEONEWS - Upaya penanganan dan pencegahan banjir di Kota Palangka Raya kini mendapatkan penguatan signifikan melalui pelaksanaan program National Urban Flood Resilience Project (NUFReP).
Program ini dirancang dengan pendekatan yang komprehensif, yakni menggabungkan pembangunan infrastruktur fisik sekaligus peningkatan kapasitas sumber daya dan kelembagaan pemerintah daerah.
Sebagai wujud kolaborasi antara skema nasional dan global, NUFReP secara khusus diarahkan untuk meningkatkan ketahanan kota dalam menghadapi risiko banjir serta meminimalkan potensi kerugian materiil maupun non-materiil yang ditimbulkannya.
Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin, menegaskan bahwa kehadiran program ini merupakan langkah strategis yang tepat guna menjawab tantangan banjir perkotaan yang kerap terjadi, terutama yang dipicu oleh tingginya intensitas curah hujan.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan yang diterapkan dalam NUFReP tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik semata, tetapi juga pada penguatan sistem kerja dan kemampuan pemerintah daerah dalam mengelola risiko bencana secara terstruktur dan terukur.
“NUFReP merupakan upaya terpadu yang menggabungkan pembangunan infrastruktur seperti drainase dan tanggul, serta penguatan kapasitas pemerintah daerah dalam menghadapi risiko banjir,” ujar Fairid saat diwawancarai pada Senin 20 April 2026.
Ia menambahkan bahwa pembangunan infrastruktur yang dilakukan melalui program ini dirancang untuk mampu mengurangi luas genangan air serta mempercepat proses surutnya air, baik di kawasan permukiman warga maupun area tutupan lahan lainnya di kota.
Fairid menjelaskan bahwa fasilitas yang dibangun dalam program ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengendalian banjir, tetapi juga dirancang memiliki nilai tambah bagi kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Selain untuk pengendalian banjir, kawasan yang dibangun juga dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai ruang terbuka hijau dan area olahraga, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh warga,” tambahnya.
Program NUFReP ini dinilai sangat selaras dengan arah pembangunan Kota Palangka Raya periode 2025–2029, khususnya dalam upaya revitalisasi sistem drainase kota.
Pemerintah daerah berkomitmen untuk menghadirkan sistem drainase yang adaptif terhadap perubahan iklim, berkelanjutan dalam jangka panjang, serta tetap memperhatikan aspek kelestarian lingkungan hidup.
Integrasi antara infrastruktur yang tangguh dengan peningkatan kapasitas kelembagaan diyakini menjadi kunci utama dalam menciptakan ketahanan kota yang maksimal.
“Melalui integrasi pembangunan drainase yang tangguh dan penguatan kapasitas daerah, kami ingin menciptakan ruang kota yang lebih aman, nyaman, dan berkelanjutan bagi masyarakat,” tegas Fairid.
Ia berharap dengan implementasi program ini, penanganan banjir di Palangka Raya dapat berjalan secara lebih efektif dan efisien, sekaligus mampu meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan dan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. (PATHUR/R)









