BORNEONEWS, Sampit – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Dexlite mulai memberikan dampak signifikan terhadap segala aspek operasional di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur.
Kenaikan ini khususnya menyulitkan penggunaan armada mobil tangki air dan unit penyelamatan (rescue) yang mayoritas memakai bahan bakar berbasis solar seperti Dexlite.
Kepala BPBD Kotawaringin Timur, Multazam, mengungkapkan bahwa meskipun armada masih dapat beroperasi, tingginya kenaikan harga BBM tersebut membuat ruang gerak operasional menjadi sangat terbatas.
“Masih bisa beroperasi, tetapi karena kenaikannya cukup tinggi, tentunya pergerakan menjadi terbatas,” ujarnya, Senin, 20 April 2026.
Dengan alokasi anggaran operasional yang ada saat ini, yang belum disesuaikan dengan harga baru BBM, armada BPBD hanya mampu bertahan selama kurang lebih 30 hari kalender dalam penggunaan bahan bakar.
“Kondisi ini sangat berpotensi menghambat respons cepat kami di lapangan, terutama ketika menghadapi situasi darurat seperti kebakaran dan kebutuhan distribusi air bersih ke masyarakat,” terangnya.
Menurutnya, pergerakan unit water tank dan rescue akan sangat terbatas karena memang bahan bakar utama yang dipergunakan adalah solar yang mengalami kenaikan harga signifikan ini.
“Pergerakan unit water tank dan unit rescue akan terbatas, karena pada umumnya menggunakan bahan bakar solar,” terangnya.
Karena itu, Multazam berharap pemerintah daerah segera memberikan perhatian khusus dalam hal penyesuaian anggaran operasional BPBD. Ia menegaskan bahwa penyesuaian dana tersebut sangat penting agar pelayanan kepada masyarakat dapat tetap berjalan optimal, terutama untuk menghadapi potensi bencana yang selalu mengancam wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur.
“Kami mengharapkan adanya penyesuaian anggaran yang cepat agar kami dapat melanjutkan tugas penanggulangan bencana dengan maksimal tanpa terkendala masalah bahan bakar,” pungkasnya.
Kenaikan harga BBM Dexlite ini menjadi tantangan serius bagi BPBD Kotawaringin Timur, yang selama ini mengandalkan armada dengan bahan bakar solar untuk menunjang berbagai kegiatan strategis dalam mitigasi dan penanggulangan bencana. (DEVIANA/R)









