SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Banjir merendam kawasan Pasar Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), setelah diguyur hujan deras selama beberapa jam. Genangan air diduga disebabkan oleh sistem drainase yang tidak berfungsi optimal.

"Parenggean ini daerah bukit, tapi lokasi pasar memang lebih rendah. Banjir ini akibat drainase yang tersumbat," kata Camat Parenggean M Jais, Senin, 20 April 2026.

Banjir tersebut terjadi Minggu, 19 April 2026. Ia menjelaskan, hujan deras yang terjadi selama 3 hingga 4 jam membuat air dari kawasan perbukitan mengalir ke bawah dan tertahan akibat saluran yang tidak lancar. Selain itu, sejumlah bangunan warga seperti kios yang menutup parit turut memperparah kondisi.

"Masih ada bangunan yang menutup saluran air dengan papan, itu yang menghambat aliran air," tambahnya.

Meski demikian, genangan air tidak berlangsung lama. Ketinggian air diperkirakan hanya sekitar 20 sentimeter dan surut dalam waktu 3 hingga 4 jam.

Ia memastikan, banjir tersebut bukan berasal dari luapan sungai melainkan murni genangan akibat buruknya drainase serta faktor lingkungan seperti sampah yang menghambat aliran air.

Pihak kecamatan bersama lurah, RT/RW, dan masyarakat sebenarnya rutin melakukan gotong royong setiap Jumat untuk membersihkan saluran air. Namun, keterbatasan anggaran membuat perbaikan drainase belum bisa dilakukan secara maksimal.

"Selama ini kami lakukan secara swadaya bersama masyarakat. Sampah sudah kita tertibkan, tapi belum semua masyarakat memiliki kesadaran yang sama terhadap kebersihan," ujarnya.

Ke depan, pihaknya akan terus melakukan penataan serta meminta aparat kelurahan untuk mengecek kembali saluran drainase yang tersumbat agar kejadian serupa bisa diminimalisir.

"Kalau drainase lancar, kemungkinan besar genangan seperti ini tidak akan terjadi," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/H)