SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Menjelang musim kemarau, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kotawaringin Timur, Ahmad Sarwo Oboi, mengingatkan para pembudidaya ikan untuk mengambil langkah antisipasi guna menjaga kelangsungan produksi ikan. Hal ini terutama ditujukan bagi pembudidaya yang mengelola kolam di atas tanah atau kolam gali, yang sangat bergantung pada curah hujan sebagai sumber air utama.

“Untuk nelayan sungai, musim kemarau ini belum ada pengaruh signifikan. Namun, yang paling terdampak adalah pembudidaya yang menggunakan kolam di atas tanah atau kolam gali,” terangnya, Senin, 20 April 2026.

Diketahui berdasarkan prakiraan cuaca, musim kemarau akan terjadi mulai September nanti. Saat ini tengah memasuki masa transisi ke kemarau. Sejumlah instansi mulai melakukan antisipasi lantaran kekeringan akan berdampak pada berbagai sektor, tidak hanya pertanian namun juga pada budidaya ikan di wilayah Kotim. 

Kurangnya intensitas hujan menyebabkan penurunan volume air di kolam, karena sebagian besar kolam tersebut memperoleh suplai air dari air hujan. Oleh karena itu, penurunan pasokan air berdampak langsung pada kondisi kolam budidaya ikan.

“Karena dengan kurangnya hujan, otomatis air kolam menurun. Sebagian kolam itu sumber airnya dari air hujan,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Kepala Dinas Perikanan yang biasa mengenakan serban itu menyarankan pembudidaya agar mulai mempersiapkan langkah pengisian air kolam dari sumber lain demi menjaga kestabilan kebutuhan air.

“Antisipasi bisa dilakukan pembudidaya yaitu mengisi air dari tempat lain, misalnya ada sungai-sungai terdekat atau sumur-sumur yang sumber mata airnya,” lanjutnya.

Upaya sosialisasi mengenai antisipasi musim kemarau ini telah dilakukan oleh pihak Dinas Perikanan. Itu sudah kami sosialisasikan dan pembudidaya sebagian besar sudah paham itu," imbuhnya. 

Dia menambahkan bahwa sebagian besar pembudidaya yang memiliki kolam sudah menyadari pentingnya keberlangsungan pasokan air dan biasanya cepat tanggap ketika volume air mulai berkurang.  “Tapi rata-rata kalau mereka yang punya kolam sudah pasti tahu itu kalau mulai berkurang airnya,” tutupnya.

Imbauan ini menjadi penting dalam rangka menjaga produktivitas perikanan selama musim kemarau agar tidak mengalami penurunan yang signifikan akibat kekurangan pasokan air.

Pemerintah daerah melalui Dinas Perikanan terus melakukan pendampingan bagi pembudidaya agar menerapkan langkah-langkah adaptasi yang efektif demi keberlanjutan sektor perikanan di Kotawaringin Timur. (DEVIANA/R)