PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Gejolak geopolitik internasional berdampak langsung terhadap sektor perkebunan di Kalimantan Tengah. Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memicu kenaikan harga berbagai komoditas, termasuk Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di daerah ini.

Sekretaris Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Kalteng, Rawing Rambang, mengatakan eskalasi konflik tersebut berdampak pada kenaikan biaya logistik dan kebutuhan pokok, yang berimbas pada harga komoditas perkebunan.

“Akibat konflik tersebut, terjadi kenaikan minyak angkutan, sandang, pangan serta komoditas lainnya. Hal ini juga berdampak terhadap kenaikan harga TBS sawit di Kalimantan Tengah,” kata Rawing kepada Borneonews pada Selasa, 21 April 2026.

Berdasarkan data Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah, lanjutnya, dalam periode akhir Februari hingga awal April 2026 terjadi kenaikan harga TBS sebesar 12,68 persen. Pada akhir Februari 2026, harga TBS tercatat Rp3.459,07 per kilogram, kemudian meningkat menjadi Rp3.897,96 per kilogram pada awal April 2026.

Rawing menyebut, dalam jangka pendek kondisi ini memberikan keuntungan bagi petani sawit. Namun di sisi lain, kenaikan harga tersebut justru menjadi beban bagi konsumen karena daya beli masyarakat berpotensi menurun akibat meningkatnya harga berbagai kebutuhan.

“Di tengah kenaikan harga komoditas, sektor usaha lain tidak serta-merta mengalami kemudahan. Bahkan biaya produksi sawit seperti pupuk dan obat-obatan justru ikut meningkat,” tegas Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng ini.

Ia menambahkan, kenaikan biaya produksi dipengaruhi oleh ketergantungan terhadap bahan impor, khususnya dari kawasan Timur Tengah yang terdampak langsung konflik. Hal ini menyebabkan harga pupuk dan sarana produksi lainnya melonjak lebih tinggi.

Rawing berharap situasi global dapat segera membaik.

“Kita berharap akan terjadi perdamaian, sehingga harga komoditas bisa kembali normal seperti sebelum konflik pada akhir Februari 2026,” pungkas Dosen Universitas Kristen Palangka Raya ini lagi. (TESTI PRISCILLA/H)