SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yang jatuh pada 27 Mei 2026, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai memetakan kebutuhan hewan kurban. Hasil sementara menunjukkan ketersediaan ternak masih belum mencukupi.

"Perkiraan kebutuhan sapi mencapai 1.114 ekor, sementara stok masih kurang sekitar 651 ekor. Untuk kambing dibutuhkan 448 ekor, dengan kekurangan sekitar 303 ekor," kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotim, Yephi Hartady Periyanto, Selasa, 21 April 2026.

Pemerintah daerah terus melakukan langkah antisipatif dengan menjalin komunikasi bersama para peternak dan pengepul yang selama ini menjadi pemasok utama hewan kurban di wilayah Kotim.

"Data ini kami himpun dari pengepul. Selanjutnya, kami akan terus memantau kemampuan mereka dalam memenuhi kebutuhan tersebut hingga mendekati hari H," tambahnya.

Selain memastikan ketersediaan, DPKP juga akan melakukan pengawasan ketat terhadap kesehatan dan kelayakan hewan kurban. Pemeriksaan dijadwalkan mulai dilakukan paling lambat dua pekan sebelum Idul Adha.

"Pemeriksaan akan dimulai sekitar H-14, menyesuaikan dengan kedatangan hewan kurban di lokasi penjualan," ujarnya.

Ia menjelaskan, pemeriksaan dilakukan dalam dua tahap, yakni antemortem dan postmortem. Tahap antemortem dilakukan saat hewan masih hidup untuk memastikan kondisi fisik, umur, dan kesehatannya. Sedangkan postmortem dilakukan setelah penyembelihan, dengan memeriksa organ dalam seperti hati, paru-paru, dan jantung.

"Hewan yang dinyatakan sehat dan layak akan diberi tanda khusus dari dinas sebagai jaminan bagi masyarakat," tegasnya.

Di sisi lain, DPKP juga memproyeksikan adanya kenaikan harga hewan kurban tahun ini. Lonjakan diperkirakan berada di kisaran 15 hingga 20 persen dibanding tahun sebelumnya, seiring meningkatnya permintaan menjelang hari raya.

Meski demikian, Yephi memastikan kenaikan tersebut tidak akan berdampak besar terhadap harga daging di pasaran.

"Karena hewan kurban tidak untuk tujuan komersial, maka pengaruhnya terhadap harga daging relatif kecil," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/j)